CHAPTER 1
-AUTHOR POV-
“Aish sial. Ya! apa
kau bodoh?” Lengkingan cempreng seorang pria sukses membuat suasana hangat
disekitarnya lenyap. Alasannya adalah parka hijau barunya kini basah karena
kopi kalengan yang dipegang oleh lawan bicaranya yang terlihat seperti bocah baginya.
Bocah itu adalah Jungkook.
Merasa tidak enak Jungkook lalu sibuk menepis basahan
kopinya yang telah menodai parka milik si pria “ah maaf” ucapnya datar. Namun
sepertinya permintaan maaf bukanlah solusi yang diinginkan pria itu. Pasalnya
bukannya membiarkan Parkanya dibersihkan ia malah menepis tangan Jungook dan
kembali berteriak.
“Apa matamu itu hanya hiasan ?”
“Aku baru saja membeli parka ini”
“kau tau berapa harganya ?”
Pekiknya tak henti-henti menekan Jungkook. Ia dan 4 temannya
mencoba mengintimidasi tanpa perduli tatapan sinis disekitar mereka.
“Ah.. aku tau arah pembicaraan ini” gumam Taehyung yang
sedari tadi hanya berdiri dibelakang Jungkook.
“Aku minta ganti rugi!”
Mendengar kata-kata itu Taehyung langsung memutar bola
matanya malas.
“Haish.. basi” fikirnya. Merasa tak tahan lagi ia pun
akhirnya angkat bicara.
“Ya! kenapa kami
harus menggantinya ? dia bahkan sudah terlalu baik dengan mengalah dan minta
maaf padamu, padahal kau yang menabrak.” Bela taehyung.
Taehyung berteriak tanpa rasa gentar sedikitpun walau lawannya adalah 5 pria
dewasa sekaligus. Sementara Jungkook sibuk menarik-narik lengan sweaternya sambil
melemparkan tatapan “Apa kau gila ?” yang sangat jelas.
“Hua, benar-benar bocah ini”
BUKKK
Sebuah pukulan mendarat tepat di pipi kiri Taehyung. Begitu
cepat sampai ia tidak sempat menghindarinya.
Sorot matanya memandang tajam disela-sela rambut yang
menutupi sebagian wajahnya yang tertunduk. Ia melirik pada pria yang baru saja
berniat cari mati karena berani-beraninya melukai pipi mulusnya.
“APA ? KAU MARAH ? TAK TERIMA ? HUH ? KALAU BEG…”
BUUKK
Sebuah pukulan melayang lagi. Kali ini berasal dari Taehyung
yang secepat kilat membalas ketidaksukaannya pada pria sok didepannya itu.
Samar-samar sudut bibirnya mulai tertarik keatas menampakkan sebuah senyum
dingin yang mengintimidasi siapapun yang melihatnya. Sementara Jungkook sibuk
memijat pelipisnya. Helaan nafasnya yang berat menandakan ia telah menyerah
untuk menghentikan Taehyung. Ia tahu betul akhir dari perkelahian bodoh ini.
“Hyung…” ia
menatap kearah Taehyung lagi, memelas pada Taehyung untuk berhenti. Jungkook
memang membenci perkelahian apalagi ia tau kalau kesempatan menang mereka
tipis. Lihat saja lawan mereka. 5 pria dewasa yang hampir semuanya memiliki
tinggi lebih dari 180cm.
Seolah tak peduli, Taehyung kembali melayangkan tinjunya
pada pria itu. Fikirnya kenapa Jungkook begitu takut padahal ada Namjoon dan Hoseok
bersama mereka. Bagi Taehyung kalau soal adu tinju Namjoon adalah juaranya.
Melihat temannya dipermalukan 4 pria yang bersamanya tak
tinggal diam. Baku hantam antara 2 kubu itupun tak lagi dapat dihindari.
***
“Jungkook a, Apa
yang terjadi ? kalian tidak apa-apa ?” suara khas milik Jimin bergema diruangan
yang cukup luas itu. Ia langsung berlari menghambur menuju teman-temannya yang
baru saja sampai dimuka pintu.
Mereka babak belur terlebih Taehyung. Sebagian besar
wajahnya kini berwarna biru lebam, sudut bibirnya pecah, untung saja hidungnya
tidak patah. Sementara yang lain memiliki luka yang kurang lebih sama.
“tenang saja, kami menang” ucap taehyung terkekeh. Ia lalu
meraih pundak Jimin dan berjalan bersamanya menuju sofa untuk melemparkan tubuh
lemahnya.
“sudah berapa kali kubilang, seharusnya kau berhenti
mengembangkan bakat cari masalahmu itu. tidak baik untuk kesehatan” ceramah Hoseok
pada Taehyung seraya mengambil posisi santai di sofa diikuti Namjoon dan
Jungkook yang memilih berbaring terlentang dilantai.
“Mereka yang cari masalah duluan, hanya karena lebih tua
seenaknya saja memeras kami” jawab Taehyung membela diri. “Untung saja ada
Namjoon-hyung, kalau tidak kita pasti
sudah mati sekarang”
Namjoon terkekeh.
“Jadi maksudmu aku sama sekali tidak membantu ?” balas Hoseok
kesal ia ingin sekali memukul wajah Taehyung tapi rasanya terlalu lelah untuk
bergerak, tenaganya sudah terkuras habis karena perkelahian bodoh itu.
“Apa yang kau katakan Hyung
? aku yang menghajar mereka semua”
Protes Jungkook ikut-ikutan kesal. Ia lalu menatap horror kearah Taehyung namun
Taehyung hanya menanggapinya bosan.
“Ya.. yaa.. kau lah penyelamat kita, kansahamida Jungkook a”
Cih.
“Ya ya! ada apa
ini ? apa yang terjadi ? kalian kenapa ?” Sewot Yoongi yang baru saja keluar
dari ‘kandangnya’. Kebiasaannya memang mengurung diri dikamar berjam-jam dalam
sehari. Demi melahirkan mahakarya yang sempurna katanya.
“Taehyung buat masalah lagi” Jawab Jimin yang ternyata
menghilang dan baru kembali dengan kotak P3K ditangannya.
“Bukan aku… mereka yang…” belum sempat Taehyung membela diri
Jin langsung mengambil tempat disebelahnya. Menceramahi pria paling
kekanak-kanakan yang ia kenal.
Sebagai yang paling tua diantara mereka Jin memang paling
sering mengomel dibanding yang lain. Ia merasa keselamatan dan kebahagiaan
mereka adalah tanggungjawabnya. Tak ayal itu membuatnya mendapat predikat ‘Eonma’ di antara mereka. Namun itu
bukanlah hal yang buruk bagi mereka terutama bagi Taehyung yang memang sudah
tidak punya ibu. Atau bagi Yoongi dan Jimin yang tak lagi tinggal dengan orang
tua mereka. Dan bagi Hoseok yang seumur hidupnya tak pernah mendapat kasih
sayang dari orang tuanya sendiri.
Karena itulah mereka memutuskan untuk menjalani hidup bersama.
Sebagai 7 orang yang memiliki kisah hidup serupa. Berbagi banyak rasa sakit dan
saling mengobatinya bersama, berusaha membuat sedikit kebahagian dan
menikmatinya walau hanya sekejap.
“Hidup ini berat kawan. Itu sebabnya kami bersama.
Bergantung satu sama lain. Mencoba menjadi lebih kuat menghadapi kerasnya dunia
yang terus memaksa kami untuk jatuh.”

0 komentar:
Posting Komentar