Kamis, 26 Februari 2015

My Sketch

Diposting oleh Vonny Apriliani di 21.13 3 komentar
Ossssuu ! Minna-san O genki desuka ? Ohisashiburi naa :D kyou wa, Vonny mau ngeshare ‘My Sketch’ maksudnya sketsa karakter-karakter Anime yang Vonny gambar sendiri. Gambar ini semuanya adalah hasil dari ‘keisengan’ dan ‘kekurangkerjaan’-nya Vonny. Dan akhirnya iseng-iseng dipost. Semoga kalian suka yah :)

1. Kuroko Tetsuya

Kuroko Tetsuya adalah karakter utama di anime Kuroko no Basuke. Dia adalah si bayangan dari SMA Seirin. Kuroko dan Kagami – Pasangan basketnya atau difilm ini disebut cahayanya- berusaha keras untuk mengalahkan anggota Kiseki no Sedai atau Generasi Keajaiban yang dulunya adalah teman satu tim kuroko saat di SMP Teiko. Kuroko punya hawa keberadaan yang tipis sehingga terkadang orang tidak menyadari kehadirannya walaupun ia sudah berada didepan orang tersebut. Dia punya gaya permainan basket yang aneh tapi unik. Karakternya bisa dibilang Kuudere. Soalnya dia orang yang Cool banget, dia tidak banyak bicara dan selalu serius, sebenarnya dia orang yang polos tapi lucu. Pokoknya karakternya keren banget deh !! (Dia adalah karakter yang pertama kali aku coba gambar loh)


2. Midorima Shintaro




Yang kedua adalah Midorima Shintaro dari Anime Kuroko no Basuke juga. Dia adalah salah satu anggota Kiseki no Sedai yaitu si “Three Pointer” atau pencetak tiga angka. Tembakannya tak pernah meleset sekali pun. Bahkan jangkauan tembakannya juga sejauh satu lapangan. Hebat kan ? Kalo karakternya sih, bisa dibilang dia Tsundere. Karna dia suka menyendiri dan tidak begitu suka bergaul. Dia juga penggila ramalan loh. Setiap hari dia selalu uptodate mengecek ramalan zodiaknya dan bahkan menyiapkan “Lucky item-nya” setiap hari untuk menghindari kesialan. Sebenarnya sih nggak terlalu ngefans sama Midorima, tapi aku gambar ini soalnya diminta sama temen. Hehe semoga suka yah gambarnya.

3. Kuriyama Mirai



Ini Heroine pertama yang aku gambar. Kuriyama Mirai dari Anime Kyokai no Kanata. Cewek berkacamata merah ini loli banget ! Dia karakter cewek yang paling hebat menurut aku. Dia adalah keturunan klan darah terkutuk yang punya kekuatan yang mengerikan. Wuiiih kecil-kecil aja hebat. Dia bisa membentuk pedang menggunakan darahnya untuk melawan Youmu –dalam anime ini Youmu adalah siluman yang wujudnya mirip seperti binatang yang berasal dari kebencian dihati manusia- Dia bertarung demi menyelamatkan Kanbara Akihiko –manusia setengah Youmu- yang seharusnya ia bunuh. Perjuangannya mengharukan banget deh pokoknya. Apalagi saat dia masuk ke dimensi lain dan bertarung berbulan-bulan demi Akihiko. Dia hidup sendiri dan miskin,  walaupun kecil tapi makannya banyak ! tingkahnya lucu banget kalo lagi coba bohong. Ah pokoknya loli banget deh.


4. Kirigaya Kazuto







Kirito adalah karakter utama di anime Sword Art Online (SAO). Si black-sword-man ini adalah karatker cowok paling keren menurut aku dan beberapa situs lainnya :P Dia berhasil menyelesaikan gamemematikan –SAO-  yang sudah membuatnya terjebak selama 2 tahun. Didalam game dia bertemu dengan Asuna dan mereka menikah dan punya anak bernama Yui –yui sebenarnya adalah sebuah program bukan anak sungguhan loh- . Kisah cinta mereka keren banget. Kirito punya watak yang keras kepala dan suka berbicara tidak sopan. Tapi dia orang yang memegang teguh janjinya dan pantang menyerah, dia juga kuat, pintar dan keren banget ! Anime ini diadaptasi dari Light novel dan  sudah keluar 2 season, dan sepertinya season 3-nya sedang dibuat. *ngarep banget* Gak sabar banget ketemu Kirito lagi. Semog aja bisa ketemu lagi :P

5. Kaneki Ken



Kaneki Ken adalah karakter utama di anime Tokyo Ghoul. Awalnya dia hanyalah manusia biasa dengan hidup yang normal, hingga dia jatuh cinta dengan seorang wanita yang ternyata Ghoul. Karna sebuah kecelkaan dia dioprasi dan menerima transplantasi organ dari tubuh ghoul yang membuatnya jadi setengah manusia setengah ghoul. Dia punya karakter yang penyayang dan selalu memikirkan orang lain, bahkan bisa dibilang motto hidupnya adalah “Dari pada menyakiti orang lain lebih baik jadi orang yang tersakiti”. Walaupun dia ghoul dia selalu berusaha untuk tidak memangsa manusia. Tapi diseason kedua anime ini dia bergabung dengan para ghoul yang kuat dan melakukan penyerangan disana sini. Diseason kedua ini karakternya sedikit berubah, dia yang mulai menerima kekuatan ghoulnya jadi lebih kuat dan lebih dingin. Si ghoul bermata satu ini emang keren banget !!!

6. Akashi Seijuro



Lihat matanya ! Serem kan ? Akashi Seijuro dari anime Kuroko no Basuke ini adalah kapten Kiseki no Sedai. Dia punya aura yang menyeramkan dan semua orang segan padanya. Kekuatannya adalah Emperor eye, dia bisa mengetahui segala gerakan musuh dimasa depan, dengan begitu dia bisa menggagalkannya sebelum musuhnya bergerak. Dalam hidupnya dia tidak pernah mengalami yang namanya kekalahan, gilak ! hebat banget kan ? Mungkin itulah sebabnya dia selalu merasa benar. Liat aja tuh kata-katanya “Selama aku selalu menang, aku selalu benar. Aku tak terbantahkan, aku bisa melihat segalanya, dan mudah bagiku untuk mengubahnya” Dia punya karakter yandere. Dia rela melakukan apa saja demi tujuannya. Huah seram. Tapi tetap aja keren menurutku.

7. Arima Kousei




Arima Kousei adalah karakter utama di anime Shigatsu wa kimi no uso. Dia adalah seorang pianist yang sangat terkenal ketika masih kecil. Semua pemusik tau namanya. Namun dia berhenti bermain piano selama 2 tahun karna trauma. Setelah ibunya meninggal ia tak bisa mendengar suara dari piano yang ia mainkan, ia tersiksa dan berhenti bermain piano sejak saat itu. Hingga ia bertemu dengan Kaori seorang violinist yang menuntunnya kembali kedunia musik. Dia menyukai Kaori yang menyukai watari -temannya Kousei sendiri-. Sementara teman masa kecilnya -Tsubaki- ternyata baru menyadari kalau dia menyukai Kousei. Ahh anime ini keren banget ! benar-benar menyentuh hati. Kousei punya karakter yang lembut tapi tegas. Dia sangat menyayangi ibunya, ia mengorbankan masa kecilnya untuk jadi pianist terkenal hanya demi ibunya. Dia payah dalam olahraga dan soal perempuan. Tapi dia keren banget saat main piano. Dia pianist paling keren !!


Yosh. Gimana menurut kalian ? ini gambar dari seorang amatiran, bukan pro jadi sorry kalo gak mirip-mirip amat :P Hahaha :D Segini dulu yah, kapan-kapan lanjut lagi :) Sankyuu buat kunjungannya :) Silahkan dikomentari kalau mau ;) Ja, mata nee *melambai-lambaikan tangan*






I REALLY HATE YOU, MY BELOVED

Diposting oleh Vonny Apriliani di 05.57 10 komentar

Dia sahabatku, sahabatku satu-satunya. Sahabatku yang paling freak didunia. Kau tak akan mengerti apa yang ia ucapkan. Semua yang ia katakan selalu berbanding terbalik dengan apa yang ia inginkan. Dia tidak pemalu, tidak juga munafik, dia hanya gengsian kurasa. Entahlah, tapi begitulah dia. Orang yang paling aku cinta.

(Aku pake gambar Oreki sama Chitanda dari Anime Hyouka. nggak nyambung sih sama cerita yang aku buat, Tapi gak apalah buat cover doang ceritanya :P)
"Dit ! mau kemana ?" tanya Arini yang setengah berlari menghampiriku.
"bolos" jawabku enteng
"Elu tuh ya ! udah keseringan banget lo bolos pelajaran fisika. Kalo nilai lo down gimana ?" Aku tau gadis ini akan mulai menceramahiku, tapi aku hanya menatapnya dengan wajah tengil
"abis gue bosen ! ngitung terus. mana rumusnya aneh-aneh gitu lagi bentuknya" alasan yang bodoh untuk orang yang bodoh juga kataku mengomentari diri sendiri
"elaah, udah tau bego bukannya belajar malah bolos. yaudah terserah lo deh kalo lo mau bolos, gak ngaruh ke gue juga kalo nilai lo anjlok" Arini menatapku dengan wajah 'sok acuh tapi peduli' khas miliknya.
Gadis ini memang selalu begini. Dia tipe orang yang gengsinya kuat banget. Kebanyakan apa yang ia ucapkan itu berarti sebaliknya. Saat dia bilang tidak, maka berarti iya. Saat dia bilang terserah, maka berarti 'gue nggak setuju'. Saat dia bilang pergi, maka berarti jangan pergi. Dan saat dia berlaga 'masa bodoh' maka itu berarti dia peduli. Semuanya berkebalikan dengan apa yang ia ucapkan. Aku sih sudah hapal sekali dengan sifatnya yang satu ini. Kapan dia jujur dan kapan dia bohong sudah jadi keahlianku untuk meniliknya. Maka arti dari kata-katanya barusan adalah "jangan bolos, gue nggak mau nilai lo sampai anjlok" dan begitulah maksud Arini sebenarnya.
Arini memutar badannya lalu berjalan meninggalkanku, kulihat punggung Arini yang perlahan menjauh dariku. 'Dasar Arini' gumamku dalam hati saat memahami kata-kata tersiratnya itu. Aku mulai berjalan mengejar langkah Arini, ia yang menyadari aku sedang mengikutinya dibelakang langsung menoleh.
"Apa ? katanya mau bolos ?" katanya dengan wajah sok jutek
"nggak jadi deh" aku menjawab santai. Arini hanya bergumam 'emm' sambil berusaha menahan senyum. Mungkin dia merasa senang karna aku mengerti maksudnya.
Arini Cantika. Begitulah nama gadis yang selalu nempel denganku seperti permen karet. Dia cantik, seperti namanya. Badannya cukup tinggi untuk ukuran anak kelas 2 SMA. Matanya bulat bening dengan bola mata yang hitam pekat seperti rambutnya yang panjang terurai. Hidungnya kecil tetapi cukup mancung, dengan bibir merah yang tipis dan kulit putih bersihnya, ia terlihat sangat menawan dimata para lelaki. Dia memang sudah cantik dari dulu, aku berteman dengannya sejak kelas 5 SD. Ia pindah didekat rumahku, satu komplek sebenarnya hanya berjarak 2 buah rumah dari rumahku. Ia jadi tetangga baru sekaligus teman baruku disekolah. Karna dikomplek tidak ada anak yang semuran, kami sering main berdua dan semakin akrab sampai sekarang. Aku tau baik buruknya dia, prestasi dan aibnya, kesukaan dan kebenciannya, kekonyolan dan kebodohannya semuanya tentang dia. begitupula sebaliknya.
Kami sudah bersahabat selama 6 tahun terakhir ini. tapi ketika mulai masuk SMA Arini berubah menjadi lebih cantik. ia meluluhkan hati banyak pria. Kakak kelas, anak-anak yang seangkatan, bahkan baru-baru ini kudengar dia jadi idola para adik kelas. Sebenarnya dia orang yang gengsian, seperti yang aku bilang tadi. Dia tidak akan pernah benar-benar menunjukkan perasaannya yang sebenarnya kepada orang-orang. Aku sering menjadikan omongannya sebagai teka-teki sendiri buatku. Apakah yang dikatakannya benar atau berlaku sebaliknya. Setelah beberapa tahun, akhirnya aku bisa menguasai jurus 'menebak maksud Arini' itu. Sikapnya yang aneh itu kadang membuatku kesal saat kebingungan, kadang membuatku marah, tapi kadang juga aku merasa itu  lucu. Ketika aku mengingat-ingat raut wajah 'khas'-nya itu ia sebenarnya begitu menggemaskan. Ya, aku suka padanya. Aku baru menyadarinya ketika awal masuk SMA. Melihat dirinya yang setiap hari digoda dan didekati cowok-cowok yang entah dari mana membuatku kesal setengah mati sampai ingin menonjok muka cowok-cowok itu satupersatu. Tapi apalah dayaku ? aku sudah tertular virus Arini. Aku tak mampu mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya kepada Arini. Jadilah aku seorang pecundang yang hanya bisa menyukai sahabatnya dalam diam.
***
"Damn ! hujan lagi. gimana mau pulang nih ?" Arini melirik jam tangannya sesekali. wajahnya tampak kesal karna hujan turun tanpa diduga, membuat kami harus terjebak hujan disekolah.
"emang kenapa ? kok lo pengen buru-buru pulang ?" Aku bertanya dengan tampang bodoh sok polos
"bokap sama nyokap gue hari ini pulang dari Surabaya. Gue mau jemput mereka dibandara setengah jam lagi" Wajah Arini tampak cemas sekarang. 3 hari yang lalu orang tua Arini pergi ke Surabaya mengunjungi neneknya. Arini terpaksa harus tinggal karna dia tidak ingin  seharipun bolos sekolah. Kalau Aku jadi Arini pasti aku sudah merengek-rengek minta ikut supaya bebas dari rumus fisika dan hapalan kimia selama 3 hari kedepan. Arini terlalu rajin sih, berbeda denganku yang rajin disaat tertentu saja.
"yah mau gimana lagi, gue kan gak bawa mantel. Lagian lu gak bilang sih. Kalo tau kan tadi pagi kita berangkat pake mobil aja" Yah aku lebih suka mengendarai motor besar kesayanganku ini dari pada mobil. Karna rumah kami berdekatan kami selalu berangkat sekolah bersama. Jika tidak dengan motor kesayanganku maka kami akan berangkat dengan mobil kesayangan Arini.
"Mana gue tau kalo hari ini bakal ujan" bener juga sih fikirku
"yaudah deh, lu sabar aja. Lagian kalo ujan juga pesawatnya pasti delay kan ?"
"iya kali" jawab Arini ketus. melihat wajahnya yang semakin cemberut aku berinisiatif untuk melakukan hal gila supaya bisa mengubah cemberut itu jadi tawa.
"mau pulang ujan-ujanan ?" ajakku dengan senyum tengil
"ogah ah kaya anak kecil aja ujan-ujanan" seperti biasa tolakan yang jutek
"kaya udah gede aja lu. baru 17 taun juga"
"17 taun udah gede kali"
"alah bilang aja lu takut sama ujan"
"kenapa juga mesti takut sama ujan ?"
"kalo nggak takut ikutin gue !!" aku berlari kearah parkiran menerobos hujan. Arini berteriak dibelakangku "lo gila yah dit ! basah tau !" Arini mengomel tapi tetap ikut berlari dibelakangku
"tapi lo ikut juga kan ?" godaku sambil memakai helm lalu mengelurakan motor dari barisan parkiran yang rapi.
"sialan lo" Arini tersenyum disela-sela biacaranya. Nahkan dia senyum ! ini artinya dia emang mau ujan-ujanan cuman gengsi aja bilang iya pas gue ajak tadi.
Segera Arini naik kemotorku tepat ketika aku menghidupkan mesinnya. Suara knalpot yang nyaring khas Ninja RR mengaum ditengah-tengah hujan. Aku langsung tancap gas dan melesat laju menerobos hujan. Arini melingkarkan kedua tangannya dipinggangku, ia memelukku dengan erat. Entah takut hujan, takut jatuh, atau takut kehilanganku. Yang pasti bukan yang terakhir. Saat kecepatan kami berkurang ia bersadar dipundakku. Meletakkan dagunya diatas bahuku. wajahnya sangat dekat. Membuat jantungku berdetak kencang sampai terasa ingin lepas. Aku merasa ada sesuatu yang bergejolak dihatiku. Sesuatu itu meronta-ronta membuat sekujur tubuhku terasa geli. Ini perasaan senang, bukan ! lebih tepatnya perasaan bahagia.
***

"huah basaahh !" seru Arini ketika turun dari motor. Ia mengibas-ngibaskan rambutnya lalu memeluk dirinya sendiri sambil menunggku turun dari motor.

"Gue lebih basah dari lo tau" kataku sambik mendesis kedinginan

"rasain. Ini kan emang ide idiot lo" Arini memutar badannya membuka pintu belakang dan masuk kedalam. Aku mengikutinya.

"Mang ucup mana Rin?" tanyaku menanyakan supir pribadi Ayahnya Arini yang akhir-akhir ini jarang kulihat.

"nggak masuk. Kan bokap gue nggak kerja. Jadi dia libur" Arini menjawab dengan suara yang terdengar gemetaran

"Bi Ani ?" aku menanyakan pembantu Arini lagi, karna kulihat rumah ini terlalu sepi seperti kuburan. Tidak ada siapapun ketika kami datang.

"nggak tau. Udah pulang kali. Diakan emang biasanya langsung pulang kalo udah bersih-bersih. Kemaren aja dia nginep disini karna disuruh Mama  nemenin gue" tangan Arini tampak bergetar mengambil handuk yang terlipat rapi dimeja lalu melemparkan satu untukku.

Kami mengeringkan badan diteras belakang rumah Arini. Hujan masih sangat lebat diluar. Aku tidak mungkin meninggalkan Arini sendirian dirumah. Bahkan jika ia pergi kebandara aku berencana ikut menemaninya

"Rin numpang mandi yah" Aku menyelonong masuk langsung menuju toilet. Mengganti baju basahku yang sudah benar-benar kuyup dengan baju kemeja milik Ayahnya Arini yang ia siapkan untukku.

Aku sudah berganti pakaian sekarang. Arini juga sepertinya sudah. Ia memakai baju putih lengan panjang berbahan rajut dan celana pendek. Ia duduk disofa memakan kacang didalam toples yang ia peluk sambil menonton tv.

"nggak jadi kebandara ?" tanyaku mengahampirinya

"nggak. Barusan nyokap nelpon katanya nenek tiba-tiba masuk rumah sakit. Mungkin lusa baru pulang" jawab Arini santai sambil terus mengunyah kacang. Aku tau sebenarnya ada kekesalan diwajahnya.

"jadi lo ntar malem tidur sendirian dong ?" tanyaku mengejek

"iya kali. Kan Bi Ani udah pulang" jawaban jutek

"gak telp bi Ani aja ?" 

"Nanti ajalah." Ia mengabaikan saranku.

"Eh kemaren Siska minjemin gue kaset horor loh. Katanya filmnya kelewat serem. Mau nonton gak?" Arini mengobrakabrik lemari Dvdnya dan mengambil sebuah kaset dan langsung memutarnya. "boleh" sahutku agak terlambat. Meskipun aku menolak Arini pasti akan memakai alibinya untuk memaksaku ikut nonton.

"kok lo duduknya jauhan gitu sih ?" ia memasang tampak sok jutek. Maksud Arini yang sebenarnya adalah "Duduknya jangan jauh-jauh dit. Gue takut" menyadari maksud Arini yang sebenarnya aku mengejeknya.

"kenapa emangnya takut ya ?" kataku dengan wajah tengil

"Ya enggaklah. Enak aja. Ngapain juga mesti takut ? Lagian inikan cuma film" Arini menjawab dengan eksepresi sok jutek yang khas banget. Artinya "yaiyalah gue takut. Inikan film horor" hahaha dasar Arini. Aku langsung mengangkat tubuhku dan duduk tepat disamping Arini. 

"iya iya gue tau" kataku sambil memasukkan tangan kedalam toples kacang yang dipeluk Arini lalu ikut mengunyah kacang bersamanya.

“tau apa ?” Tanya Arini merasa dirinya direndahkan

“ya tau kalo lo sebenarnya takut” jawabku santai

“Nggak kok !” Elak Arini malu-malu. Lucu !

“iya iyaa”

Kami nonton film itu bersama.  Judulnya Shutter. Sepertinya film horror Thailand. Setauku Film horror garapan Thailand memang terkenal seram. Benar saja dugaanku. Filmnya memang seram. Sesekali Arini tersentak dan menyembunyikan wajahnya dipundakku. Ia tidak menjerit seperti cewek-cewek manja lainnya. Ia lebih memillih bungkam dan  mengatasi ketakutannya sendiri. Dia cewek yang tegar dimataku, atau dia malu untuk teriak-teriak didepanku ? hahaha dasar.

Hujan tiba-tiba saja berhenti begitu film selesai. Kulirik Arini yang masih menyembunyikan wajahnya dipundakku. Tapi dia tidak bergerak. Jangan-jangan.....

“huh dasar Arini ! rupanya gue dari tadi nonton sendrian” Ya, Arini tertidur, dipundakku. Kurebahkan ia perlahan disofa. Matanya tertutup rapat, wajahnya damai. Rambutnya terurai menutupi pipi kanannya. Dia jadi semakin cantik kalau sedang tertidur pulas begini. Aku beinisiatif mengambil sellimut lalu menutupi tubuhnya. Kulirik jam tanganku udah jam 5 rupanya. Mengingat Bi Ani tidak dirumah. Pasti dirumah ini tidak ada makanan. Aku melesat menuju dapur. Mengobrak-abrik kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan untuk memasak. Aku tidak terlalu pandai memasak, tapi cukup bisa. Goreng menggoreng, tumis menumis. Aku bisa. Dulu waktu kecil aku manja sekali dengan Ibuku. Kami sering tinggal berdua saja dirumah. Ia sering menemaniku bermain, dan aku juga sering membantunya memasak. Dari sanalah aku akhirnya mulai terbiasa.

Bahan-bahannya tidak terlalu banyak. Yah sebaiknya masak nasi goreng sajalah. Aku pun mulai membuat nasi goreng kesukaan Arini.

“Dit ?” Arini berjalan sempoyongan sambil mengucek-ngucek mata memasuki dapur

“udah bangun tuan putri?” sahutku tanpa menoleh kearahnya. Karna tanganku sibuk mengaduk-aduk nasi diatas wajan

“masak apaan ?”

“nasi goreng”

“wah. Telor gulungnya mana ?”

“tuh diatas piring”

“udang sama guritanya ?”

“adaaa”

“wah enak nih” seru Arini kegirangan. Sepertinya matanya sudah benar-benar melek sekarang.

Kami makan bersama dimeja makan. Arini makan dengan lahap. Ya jelaslah, ini salah satu menu masakanku yang paling ia suka. Ia terlihat seperti anak kecil jika sedang kegirangan begini. Mungkin karna sudah cukup lama kami tidak makan seperti ini bersama. Piring kami bersih dan licin. Arini langsung memungutnya lalu mencuci piring-piring kotor tersebut. Aku menunggu Arini bersih-bersih sambil duduk diruang tv. Kufikir tidak ada salahnya menghidupkan PS. Ini sudah seperti rumahku sendiri kan ? yah beginilah kami.

Arini kembali dari dapur. Wajahnya memerah. Ia berjalan sempoyongan lagi kearahku. Masih ngantukkah dia ?

“Rin ? lo kenapa “ Tanyaku cemas. Arini tidak menjawab, ia hanya duduk disampingku lalu menjadikan pahaku sebagai bantalnya utuk berbaring.

“Eh? rini ?” Tanyaku kali ini karna bingung. Arini memejamkan matanya. Kali ini wajahnya tampak cemas. Wajahnya memerah. Perlahan kurasakan semacam hawa panas disekitar tubuhku. Arini pasti....

“demam” kataku setelah meletakkan telapak tangan dikeningnya. Panas.

“demam apa sih ? gak papa gue” kata Arini lemah. Ya tentu saja dia akan bohong. Dia kan Arini.

“Aduh gimana nih ? lo sanggup jalan gak ?” tanyaku mulai panik

“apa sih, gue nggak papa. Cuma pusing aja dikit” ia bergumam tak jelas

“yaudah gue gendong” Aku langsung mengangkatnya menuju kamar. Aduh mana kamar Arini diatas lagi. Tapi takapalah. Aku cukup kuat kok untuk menggendong Arini. Kuletakkan ia perlahan diatas tempat tidurnya lalu kuselimuti ia dengan selimut tebal. Matanya masih terkatup, wajahnya cemas, tubuhnya gemetaran. Aduh Arini sakit. Pasti gara-gara ujan-ujanan tadi.

“Gue ambilin obat sama kompres dulu yah” Kataku langsung turun kebawah mencari baskom kecil dan kain untuk kompres, lalu bergegas mencari kotak obat dan air minum untuk. Dapat.

“Nih rin, lu minum obatnya dulu” kusodorkan sebutir obat dan segelas air putih untuk Arini. Ia beranjak duduk dan meminum obatnya. Tangannya benar-benar gemetaran saat memegang gelas.

“sekarang lo tiduran. Gue kompresin biar demamnya turun” Arini hanya menggaguk lemah sekarang. Ia kembali berbaring dengan bantuan tanganku. Kukompres keningnya seperti yang biasa ibuku lakukan jika aku demam. Wajah Arini masih memerah karna badannya panas. Bodohnya aku mengajaknya hujan-hujanan tadi, sekarang aku menyesal telah melakukannya.

“maaf” kataku pelan ketika tanganku memegang kain kompres dikening Arini. Tanpaku duga Arini memegang tanganku lalu mengangkatnya dan mengegengam tanganku dengan kedua tangannya.

“Gue nggak papa kok dit” Ia membuka matanya dan menatapku hangat, meskipun tangannya benar-benar terasa dingin seperti es. Kata-katanya begitu lembut walaupun aku tau itu bohong.

“Tapi Rin, gara-gara gue ngajakin ujan-ujanan tadi lo jadi sakit” kali ini kata-kataku benar-benar penuh nada penyesalan

“gue nggak papa Radit ! gue Cuma kedinginan gara-gara kelamaan kena aer tadi” kata-kata Arini mulai terdengar tegas walaupun masih dengan nada yang rendah

“Tapi Rin, salah gue juga biarin lo......” aku ingin mengatakan bahwa membiarkannya mencuci piring tadi adalah kesalahanku juga, tapi ia sudah duluan memotong omonganku

“udahlah, mending lo hangatain tangan gue nih. Dingin banget soalnya” Ia tersenyum diakhir kalimatnya. Arini selalu bisa mengendalikan percakapan seperti ini, selain pandai berakting dan berbohong ria, ia juga ahli mengalihkan pembicaraan seperti ini. Lagipula yang ia katakan memang ada benarnya. Kata maaf tidak akan membuatnya sembuh kan ? Aku mengangguk mengiayakan kata-kata Arini lalu mengangkat tanganku yang satunya dan menggenggam kedua tangannya yang sedingin es itu.

“udah lo tidur gih, gue jagain” Kataku lembut

“lo nggak pulang ? kalo lo mau pulang gue nggak papa kok” dia masih saja tidak mau jujur, padahal keadaannya sedang buruk begini. Dasar tukang gengsian. Mana mungkin aku akan meninggalkannya sendirian dirumah sebesar ini. Lagipula tidak cocok sekali ia berkata seperti itu sementara ia masih menggenggam tanganku. Ia kan butuh kehangatan. Eh maksudnya butuhku.

“gak. Gue jagain lo sampe pagi. Udah tidur aja. Ntar lo tambah sakit mikirinnya” Arini hanya tersenyum lalu ia menutup matanya. Beberapa menit berlalu sepertinya ia sudah tertidur. Aku segera menelpon ibuku menjelaskan padanya bahwa aku harus menginap dirumah Arini malam ini. Awalnya ia memarahiku dan menyuruhku membawa Arini kerumah saja. Tapi kubilang Arini sudah tidur dan aku tidak akan tega membangunkannya. Akhirnya dengan sangat terpaksa ibuku mengizinkan Aku menjaga Arini malam ini. Lagi pula mana mungkin aku melakukan hal-hal aneh pada Arini. Saat dia sehat saja aku tidak punya sedikitpun niat macam-macam dengannya apalagi saat dia sakit. Aku hanya ingin menjaganya. Menjaganya agar selalu bisa berada didekatku.


***
“Dit, udah pagi ! Lu gak mau sekolah apa ? Dit !!” kudengar samar-samar suara Arini didekat telingaku. Kupaksakan mengangkat kelopakmataku yang luar biasa berat karna terjaga semalaman.

“Rin” gumamku begitu melihat Arini sudah berdiri disampingku

“Dit ! buruan bangun ntar telat nih !!” Dia mulai menggoyang-goyangkan tubuhku

“Lo kok pake seragam sih ?” tanyaku begitu mataku sudah terbuka sepenuhnya.

“kok pake seragam ? ya mau sekolah lah bego !” Dia menjitakku.

“Lo udah sembuh ?” tanyaku langsung berdiri dan memegang keningnya, panasnya sudah turun, tapi aku masih merasa khawatir padanya.

“udah dong, kan gue kuat. Udah buruan sana pulang. Kalo nggak gue tinggal loh !” Ia menarikku berdiri dan mendorongku keluar dari kamarnya.

“iya iyaa, gue pulang, jahat banget sih usir-usir” gerutuku sambil berjalan keluar rumah. Kulirik Bi Ani yang sedang sibuk menyiapkan makanan dimeja makan.

“Pagi bi” sapaku

“Eh, Den Radit. Kok ada disini ? nginep ya ?” tanyanya kaget

“iya bi. Semalem Arini demam, jadinya saya deh yang jagain” kataku sambil mencuri sepotong roti dari meja makan

“Non Arini demam ?” tanyanya lagi kali ini ekspresinya lebih kaget

“Udah ! buruan sana ! kalo dalam 5 menit lo belum siap juga, gue berangkat duluan” ancam Arini sambil menendangku keluar dari rumahnya. Kejam. Inikah yang kudapat dari begadang semalaman menjaganya ? hiks

Set set set set set. Selesai. Aku sudah tampan dan wangi sekarang. Aku langsung bergegas keluar rumah karna aku tau Arini pasti menungguku, walaupun sudah lewat 5 menit, dia pasti menungguku, aku tau soalnya tadi dia bilang dia akan meninggalkanku. Kebalikan, ingat ?

“Lama !!” katanya jutek saat aku menjemputnya.

“hehe, gak bakal telat kok. Tenang aja” jawabku santai dan langsung tancap gas kesekolah.

“Pagi Arini, cantik banget hari ini”  sapa cowok-cowok jelek yang terpesona begitu Arini lewat didepan mereka. Membuat tanganku gatal ingin menonjok mereka satupersatu

“Pagi” jawab Arini santai dan itu langsung membuat mereka semua kegirangan. Menjijikkan

“kenapa lo ?” Tanya Arini yang ternyata melihatku memasang tampang jijik

“enggak” jawabku cepat

Pelajaran biologi berlangsung cukup lama, mungkin hanya aku yang merasa seperti itu karna pelajaran ini sangat membosankan bagiku. Kuperhatikan Arini yang duduk diseberang bangkuku, Fokus sekali dia. Tapi dia terlihat cantik juga jika sedang fokus begini.

“Arini cantik ya ?” Bisik Yogi, teman sebangkuku.

“hm ?” sahutku langsung mengalihkan pandanganku padanya

“Eh, lo sama Arini udah lama kan temenan ?” tanyanya tiba-tiba sok dekat

“terus ?” jawabku jutek

“Arini udah punya pacar belom ?” tuhkan. Nih anak sok akrab cuma buat deketin Arini doang.

“menurut lo ?” jawabku acuh tak acuh

“Gue serius dit”

“Lo kan cowo, ya lo tanya sendiri lah”

“Pelit banget sih lo” Elah nih orang baru kenal  berapa bulan aja udah ngelunjak, minta ditabok juga.

“Bodo” jawabku jutek. Yang diiringi gumaman-gumaman tak jelas dari mulutnya.

***

“Rin, Mau kekantin ? bareng gue yuk” Ajak Dika tepat setelah bel istirahat

“Eh, tapi gue sama Siska, sama Radit juga” jawab Arini yang membuatku bangga. Rasain lo Dik !

“Yaudah, kalo gitu kita sama-sama aja, yuk” Njir, nih orang maunya apa sih ? Cari perhatian banget

“boleh deh, yuk” sambung Arini sambil memberiku isyarat untuk ikut. Huh menyebalkan

Akhirnya kami makan berempat bersama dikantin. Dika benar-benar sok asik. Dia selalu berusaha mencuri perhatian Arini, gak heran kalau bocah ini digelar Playboy sama anak-anak. Dari mukanya aja udah keliatan kalo dia playboy. Gak bisa nih, pokoknya Arini gak bisa dibiarin sama nih anak.

“Oh ya Rin, hari ini ada acara gak ?” Tanya Dika

“Em, hari ini gue jemput bokap sama nyokap gue dibandara” jawab Arini. Mampus lo boy !

“kalo besok ?” elah, udah ditolak juga masih ngotot

“Em, besok. Gimana yah. Kayaknya gak ada deh” Ariniiiiii !!! jangan jawab gak ada dong !

“kalo gitu keluar bareng gue mau gak ?” gak bisa dibiarin nih, harus lakuin sesuatu, harus, harus.

“Rin, lu kan janji mau ngajarin gue fisika besok” Duh kampret, terpaksa banget pake alasan belajar, padahalkan aku musuh bebuyutan fisika. Sial banget alasannya

“eh ? lo mau gue ajarin fisika ? benaran dit ?” Tanya Arini kegirangan

“iya, kan bentar lagi ulangan, kaya lo bilang, kalo nilai gue anjlok gimana ?” jawabku gugup

“bener yah. Awas lo kalo bohong” ancam Arini

“iya iya, bawel lu” jawabku kesal

“Jadi Rin ?” Tanya Dika yang kayaknya mulai kesal denganku

“Jadi, ya gak bisa Dik, soalnya jarang-jarang banget Radit mau belajar. Sorry yah” Nah gitu dong Rin, jawabnya gitu dong. Dari tadi kek

“oh gitu, oke deh. Gak papa kok” Hahaha wajah apaan tuh ? wajah pecundang. Kasian Dika.

***

Bel pulang sudah berbunyi. Aku segera mengemasih barang-barangku kedalam tas dan bergegas keluar dari kelas terkutuk ini. Huahh. Bahagianya berada diluar kelas.

“Dit, gue ada rapat OSIS, katanya sih sebentar, tapi kalo lo gak mau nungguin gue, pulang duluan aja, Gakpapa kok” Kata Arini yang jelas-jelas artinya dia memintaku untuk menunggunya.

“iya, gue tungguin kok” jawabku diiringi senyum padanya

“benaran ?” tuhkan dia senang

“iya”

“yaudah kalo gitu gue keruang rapat dulu yah. Yuk Sis” katanya sambil menarik tangan Siska dan berlalu dari hadapanku.

Aku pergi kekantin membeli air minum, lalu berjalan dikoridor melihat anak-anak sedang bermain basket dilapangan. Bosan juga rasanya, mending ikut main ah, fikirku. Cukup lama aku bermain hingga terasa lelah. Aku duduk ditepi lapangan, mencoba menstabilkan nafasku yang ngos-ngosan. Kuteguk sebotol air yang kubeli tadi. Sudah 1 jam. Arini lama sekali. Aku memungut tasku lalu berjalan menuju ruang OSIS.

“Do, Rapatnya udah selesai ?” tanyaku pada Edo, teman sekelasku yang juga anggota OSIS. Aku berpapasan dengannya dan beberapa orang pengurus OSIS.

“Udah, Arini masih diruang OSIS sama siska, samperin aja” jawabnya sebelum kutanyai dimana Arini.

“oh, thanks ya”

“Yo’i”

Aku meneruskan langkahku menuju ruang OSIS, kulirik Arini dari jendela ruangan yang sedang kulewati. Hanya ada dia dan Siska didalam sana. Tampaknya mereka sedang asik membicrakan sesuatu.

“Terus, kalo Dika nembak lu gimana ?” Terdengar suara Siska yang spontan menghentikan langkahku.

“emm, gue tolak kali yah” jawab Arini yang membuatku langsung tersenyum licik

“langsung tolak gitu ? gak mikir-mikir dulu ? dia ganteng loh, popular lagi” goda Siska

“yah abis gue gak suka sama dia” jawab Arini ketus. Hahaha mampus lo boy !  loh kok aku jadi nguping pembicaraan mereka gini sih ?

“kalo sama Radit ?” Tanya siska lagi-lagi menghentikan langkahku yang sudah berniat untuk masuk dan bergabung dengan mereka. Sial kenapa aku jadi deg-degan gini sih. Duh gawat, gawat ! jantungku rasanya mau copot. Oke tenang, fokus. Pasang telinga baik-baik dan dengarkan jawaban Arini.

“Rin ?” Suara siska terdengar lagi setelah sesaat Arini tidak menjawab. Aku penasaran lalu aku menggeser tubuhku sedikit agar bisa melihatnya dari jendela. Dia menunduk. Arini....

“Ya enggaklah ! ngomong apa sih ? mana mungkin gue suka sama Radit, dia itukan temen gue dari kecil. Gak mungkin kan kalo gue sama dia pacaran. Lo tau kan gue sama dia itu udah temenan selama 6 tahun. Lagian dia itu anaknya suka seenaknya sendiri, makanya gue selalu ada buat ngingetin dia. Pokonya nggak mungkin kalo gue sama dia jadian. Dia juga gak mungkin suka sama gue” jawab Arini panjang lebar. Aku tau maksud dari setiap kata itu. Intinya dia tidak menyukaiku.

Aku hanya bisa terdiam untuk beberapa saat. Dadaku sakit. Aku begitu terkejut dengan pernyataan Arini, sampai-sampai aku lupa caranya bernafas. Sakit ! Dadaku sesak, Hatiku hancur, jantungku rasanya sedang diremas kuat oleh sesuatu, tanganku gemetaran, wajahku terasa panas. Aku marah, aku sedih, aku kecewa, aku kesal. Sesaat terlintas perasaan benci, aku benci pada Arini, teganya ia mengatakan hal seperti itu. Padahal selama ini aku selalu bersamanya, aku selalu menjaganya, aku selalu melindunginya, aku selalu... selalu mencintainya. Tapi apa yang ia lakukan padaku ? dia menghancurkanku !

“hahaha, santai aja kali Rin” kudengar suara samar-samar Siska sedang tertawa. Ah kepalaku mulai terasa pusing, aku ingin pulang segera. Tapi aku masih memikirkan Arini, aku harus mengantarnya pulang, aku tak bisa meninggalkannya sendirian. Pada akhirnya aku memang tak bisa benar-benar membencinya.

“Radit !” ucapnya kaget begitu melihatku berdiri tepat didepan pintu. Aku hanya menatapnya tanpa berkata apapun.

“udah lama disini ?” Tanyanya gugup. Aku tidak menjawab, ku balikkan badanku dan berjalan menuju parkiran. Dia mengikutiku dibelakang.

“Dit, lo sakit ?” tanyanya ketika kami sudah sampai diparkiran

“gak” jawabku jutek

“kok lo diem ?” tanyanya lagi, aku tidak menjawab.

“tuhkan ! lo ngacangin gue yah ?”

“naik” kataku menyuruhnya naik keatas motor. Ia hanya menuruti kata-kataku

Sepanjang jalan kami tidak berbicara apapun. Aku mengantarnya sampai didepan rumahnya, begitu ia turun aku langung pulang sebelum ia sempat bicara apapun.

Kurebahkan tubuhku dikasur, rasanya aku ingin menghancurkan kamarku beserta isi-isinya. Aku benar-benar kesal saat mengingat kata-kata Arini tadi. Hal itu benar-benar tak disangka-sangka, padahal selama ini kami sangat dekat, kufikir hubungan kami bisa lebih jauh lagi dari sekedar sahabat, tapi ia hanya menganggapku teman kecilnya ? Agggrrrrrr !!!

“Dit” kudengar suara Arini mengetok pintu kamarku. Ngapain dia kesini ?

“gue masuk ya” katanya sambil membuka pintu kamarku yang harusnya aku kunci tadi. Huh

“Lo nggak papa ?” tanyanya khawatir. Kututup wajahku dengan bantal, aku tak mau mellihatnya untuk saat ini, melihatnya membuat hatiku makin sakit

“Dit” panggilnya

“Dit, lo kenapa sih ?” tanyanya mulai kesal, ia menarik bantal yang kugunakan untuk menutup wajahku

“Apasih ! Ah..” jawabku kesal juga

“Lo kenapa sih ? sakit ?” dia memegang keningku yang langusung ketepis

“Apa sih lo ? nggak usah sok perhatian deh” jawabku ketus

“hah ! Lo marah sama gue ?”

“Nggak ! udah ah gue mau tidur”

“Dit !!!”

“Apa sih ? berisik tau nggak !”

“Lo marah kan sama gue ?”

“Nggak ! udah dibilang juga !”

“Beneran nggak marah ?” tanyanya kali ini dengan nada yang sedikit riang

“Iya” jawabku malas

“Oke, kalo gitu temenin gue ketoko buku, yok !” Ia lalu menarik-narik tanganku.

“Hah ? nggak ah gue mau tidur” tolak ku langsung, enak saja dia mengajakku pergi bersamanya setelah ia bilang tidak menyukaiku ? memangnya hatiku apaan coba ?

“ayolah dit, katanya lo nggak marah sama gue”

“nggak ah. Lo ajak Dika aja sana”

“Kok Dika sih ?”

“ya... kan dia suka sama elo”

“Lo kenapa sih ? padahal tadi kayaknya lo nggak senang banget pas Dika ngajakin gue jalan, sekarang lo nyuruh gue jalan sama dia ?” bentak Arini

“Mau lo apa sih ?” tanyanya lagi

“Lo nggak mau jalan sama Dika ?” tanyaku serius

“ya nggaklah, ngapain juga jalan sama dia” jawabnya ketus

“terus ngapain juga lo mau jalan sama gue ?”

“eh ? maksud lo ?”

“karna gue sahabat lo ?”

“ya-yaiyalah, lo kan emang sahabat gue”

“terus kenapa nggak ajak Siska aja ? diakan juga sahabat lo”

“y-ya sih” Ternyata benar, dia memang hanya ingin mengajakku. Apasih maksudnya ? dia hanya membuatku bingung. Apa aku special ? tapi dia bilang dia tidak menyukaiku. Aggrr bodo ah !

“yaudah sama Siska aja” jawabku mengelak

“Lo kenapa sih dit ? kalo nggak mau langsung bilang aja kali” ia mulai kesal lagi

“gue udah bilang kali. Gue kan nggak kayak lo !” jawabku terpancing emosi

“nggak kayak gue ?”

“Iya, lo tuh nggak pernah jelas. Semua yang lo ucapin sama yang ada dihati lo tuh beda. Lo tuh aneh ! gue heran kenapa ada orang seaneh lo ! mulut lo bilang nggak tapi hati lo bilang iya. Apa sih susahnya tinggal ngomong ? sikap lo itu cuma bisa bikin orang sakit kepala tau gak ? mikirin omongan loooo terus tiap ari. Apa sih bagusnya sikap lo itu ?  lo tu munafik tau gak ! gak bisa jujur sama diri sendiri. Lo tuh FREAK !” Aku membentaknya. Apa yang kulakukan ? Aku mengucapkan semua yang ada dikepalaku. Bodoh bodoh bodoh !

“Iya, emang gue Freak ! gue fikir cuman lo satu-satunya orang yang bisa ngerti sikap aneh gue. Gue benci lo Radit ! Gue benci ! benci benci benci benci benci benciiiiiiiiii banget !!!” Kulihat mata Arini mulai berkaca-kaca, sesaat sebelum dia meneriakiku dengan kata-kata benci, air matanya jatuh. Aku membuatnya menangis. Ia lalu berlari meninggalkanku. Aku berusaha mengerjarnya tapi aku berhenti saat didepan tangga. Aku sadar apa yang aku lakukan adalah salah. Seharusnya aku tidak membentaknya seperti itu, seharusnya aku tidak menyakitinya. Ia membenciku sekarang. Apa yang kulakukan ? aku telah membuatnya pergi.

***

Pagi ini aku pergi kesekolah sendiri, aku menjemput Arini tapi Bi Ani bilang ia sudah berangkat sendiri. Dia benar-benar marah padaku. Aku memasuki kelas, kulirik dia, matanya agak sembab, ia pasti menangis semalam gara-gara aku. Aku benar-benar merasa bersalah.

“Rin, kekantin yuk” Ajak Dika seperti biasa, tepat saat bel istirahat.

“yuk” jawab Arini cepat. Ia kekantin dengan Dika ? hah ?

“kenapa dit ? berantem ya sama Arini ?” Yogi menyikutku

“berisik lo” jawabku ketus

“elaahh, gitu aja marah. Sensi banget lo. Lagi dateng bulan ?” oloknya kesal

“Diem !” bentakku kesal lalu meninggalkannya.

Aku pergi kekantin sendiri, duduk dikursi pojok yang agak jauh dari Arini, kulihat Ia benar-benar sedang menikmati makan bersama Dika, lihat saja dia, dari tadi tertawa terus. Pasti karna lelucon-lelucon aneh Dika yang padahal sama sekali tak lucu bagiku.

Aku beranjak dari kursiku dan meninggalkan kantin, lama-lama melihat mereka dadaku bisa sesak nanti. Aku kekelas dan mengambil tasku, pelajaran selanjutnya aku bolos. Aku singgah ketaman didekat komplek dan tidur diatas rumput-rumput ditepi danau. Biasanya aku kesani bersama Arini, tapi karna dia sedang marah padaku, yah apa boleh buat. Aku pulang kerumah saat jam sekolah berakhir agar ibuku tidak curiga jika aku bolos. Aku langsung masuk kamar dan menghempaskan tubuhku diatas kasur. Huh aku merasa sangat lelah padahal tidak melakukan apa-apa. Fikiranku kosong, aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Jujur saja ini adalah pertama kalinya aku bertengkar hebat dengan Arini, biasanya kami hanya bertengkar karna makanan atau mainan dan hal-hal sepele lainnya, dia benar-benar marah kali ini. Aku harus bagaimana ? Rasanya aku tak bisa melakukan apapun tanpa Arini. Bodohnya aku !!

Tanpaku sadari matahari sudah semakin rendah, cahaya jingganya mulai Nampak dilangit. Aku hanya mengurung diriku dikamar seharian ini. Apakah hidupku begitu tidak berguna tanpa Arini ? Mungkin aku sudah benar-benar keterlaluan padanya, bahkan dia tidak datang untuk mengajariku hari ini. Mungkinkan dia pergi dengan Dika ? Hah ! Kuambil handphone-ku dan membuka akun path milikku, Arini selalu update status di Path, apapun yang ia lakukan, kapanpun dan dimanapun dia. Media social yang satu ini benar-benar sudah menjadi satu jiwa dengannya.

You know me more than myself” 3 menit yang lalu. Begitulah isi status terakhir Arini. Siapa ? aku ? yang dia maksud akukan ? Aku tau dia lebih dari siapapun. Iya kan ? siapa lagi selain aku yang bisa mengerti dirinya yang aneh itu ?

“Iya, emang gue Freak ! gue fikir cuman lo satu-satunya orang yang bisa ngerti sikap aneh gue. Gue benci lo Radit ! Gue benci ! benci benci benci benci benci benci benci benciiiiiiiiii banget !!!” Tiba-tiba saja aku mengingat kata-katanya kemarin. Njir, rasanya sesak banget kalau ingat kata-katanya itu. Apalagi dia bilang ‘benci’ sampai 10 kali gitu. Aggggrrrrrr !!! Aku mengacak-acak rambutku sendiri sangking setresnya. Dia benar-benar membuatku gila. Kuingat lagi kata-katanya saat diruang OSIS.

“Ya enggaklah ! ngomong apaan sih ? mana mungkin gue suka sama Radit, dia itukan temen gue dari kecil” Aduh sakit banget sih, jadi statusku hanya teman masa kecil dan tidak akan pernah naik pangkat ya ?

“Gak mungkin kan kalo gue sama dia pacaran. Lo tau kan gue sama dia itu udah temenan selama 6 tahun. Lagian dia itu anaknya suka seenaknya sendiri, makanya gue selalu ada buat ngingetin dia” Jadi menurutnya aku hanya sesuatu yang harus ia jaga ? begitukah ? bukankah selama ini aku yang selalu berusaha menjaganya ? Omongan Arini emang tak sesuai dengan yang sebenarnya. hemmm

“Pokonya nggak mungkin kalo gue sama dia jadian. Dia juga gak mungkin suka sama gue” Njir kata-kata yang terakhir nyakitin banget !!! hatiku hancur berkeping-keping.

“Tunggu dulu, kayaknya kebanyakan nggak mungkinnya deh, lagian alasannya berbelit-belit banget, kenapa dia nggak bilang ‘gue cuma anggap Radit temen masa kecil gue doang’ bukannya jawaban kaya gitu lebih enak diucapin yah ? Oh iya, dia kan Arini, omongannya selalu berkebalikan sama isi hatinya yang sebenarnya. Hahaha, masa kebiasaan Arini aja bisa lupa” Aku bergumam pada diriku sendiri lalu tertawa-tawa atas kebodohanku. Mungkin aku sudah benar-benar gila dibuatnya. Fikiranku terus menjelajah mengingat-ingat setiap kata-kata Arini. Tiba-tiba saja aku menyadari sesuatu.

“KATA-KATA ARINI TIDAK PERNAH SESUAI DENGAN ISI HATINYA, MEREKA PASTI BERLAWANAN” Kataku dengan suara lantang dan langsung berdiri sambil tertawa nyaring sekali seperti penjahat difilm-film kartun. Rasanya aku mengeluarkan semuanya sampai-sampai Ibuku masuk kekamar karna terganggu.

“Radit ?” katanya begitu pintu kamarku terbuka dan hanya wajahnya yang muncul dari balik pintu.

“Ups, sorry Ma” kataku sambil tersipu malu. Aku merasa benar-benar bersemangat sekarang. Aku harus menemui Arini sekarang juga ! Aku segera meraih ponselku dan berlari keluar kamar melewati Ibuku yang sedang kebingungan karna ulahku.

“Radit kerumah Arini dulu ya Ma” kataku menyelonong keluar

Aku berlari ketaman, dari status yang kulihat 3 menit lalu ia berada disana. Aku berlari sekuat tenaga mengejarnya, mengejar Arini. Wajahku tak bisa behenti tersenyum, aku benar-benar bodoh tidak segera menyadarinya. Padahal Aku yang paling mengeti dia. Dia pasti sedih karnaku. Aku harus segera minta maaf dan menjelaskan semuanya.

Seperti dugaanku dia tengah duduk sendiri ditepi danau. Huh rasanya lelah sekali, padahal biasanya aku kesini naik motor, yaampun aku benar-benar bodoh sampai melupakan motorku dan malah berlari-lari begini. Padahalkan lebih cepat kalo naik motor.

“Arini.....” teriakku dengan nafas terengah-engah.

“Radit ?” ucapnya terkejut saat menoleh. Tanpa fikir panjang lagi aku langsung memeluknya. Ia tak marah atau memberontak. Aku mengatur nafasku lalu kuucapkan kata itu.

“Maaf” kataku pelan
“hah ?”  
“Gue sadar kalo gue salah, kata-kata gue udah kelewatan banget, gue minta maaf” Kulepaskan perlahan pelukanku padanya lalu kutatap wajahnya.
“Sebenernya, waktu itu gue denger pembicaraan lo sama Rika di ruang OSIS”
“Hah ? lo denger ? semuanya ?”
“iya, jujur aja waktu itu gue hancur banget denger lo ngomong kaya gitu....” kataku diiringi senyum malu-malu
“Tapi dit,..” sanggah Arini
“Iya gue tau kok. Waktu itu gue bener-bener kacau, gue langsung hancur begitu denger kata-kata lo. Harusnya gue sadar kalo maksud lo nggak kaya gitu. Harusnya gue selalu jadi gue yang ngerti tiap kata-kata lo. Waktu itu gue ngerasa kalo gue bukan siapa-siapa dimata lo. Gue jadi buta. Sampai-sampai gue lupa sama kebiasaan lo yang aneh itu. Hehe” jelasku
“Mmm. Sorry” kata Arini sambil menunduk merasa bersalah.
“Gue juga minta maaf udah bentak-bentak lo waktu itu”
“Lo gak salah kok, sikap gue emang aneh. Harusnya gue nggak kayak gitu”
“Iya sikap lo emang aneh, tapi gue suka kok. Waktu itu gue ngomong kaya gitu karna gue  nggak ngerti apa maksud lo yang sebenarnya, padahal harusnya gue jadi orang yang paling ngertiin lo, iyakan ?”
“Radit ! makasih yaa. Gue sayang banget sama Looo !! Eh nggak maskudnya benci !! Hehe” Ia langsung memelukku, aku benar-benar terkejut dibuatnya. Dia bilang dia menyayangiku dan dia langsung memelukku. Tuhan bukankah adegan seperti hanya ada dalam mimpiku selama ini ? Kufikir ia tidak akan pernah bilang sayang padaku. Kata sayang dalam kamus Arini pasti ia ganti jadi Benci. Jadi aku langsung sadar saat dia meneriakiku waktu itu, sebenarnya bukan benci yang ia maksud, tapi sayang. Dan saat diruang OSIS dia bilang ‘gak mungkin- gak mungkin’ terus. Itu artinya dia ingin. Bukan gak mungkin pacaran dengankku, tapi dia ingin berpacaran denganku. Hahaha, bodoh sekali aku bisa lupa dengan sifat anehnya dan lupa mengartikan tiap kata-katanya waktu itu. Padahal dilihat darimanapun udah jelas kalau dia menyukaiku. Aku benar-benar bodoh. Hahaha rasanya ingin tertawa terus kalau ingat kebodohanku sendiri.
Kutatap lagi kedua bola matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.
“Jadi lo beneran benci kan sama gue ?” tanyaku dengan wajah serius.
“Iya ! gue benciiiii banget sama lo !” jawabnya dengan nada riang yang sangat kurindukan.
“Haha, kalo lo benci sama gue, berarti lo mau kan pacaran sama gue ?” tanyaku lagi
“udah jelas kan ? gue gak bakal mau pacaran sama lo” sudah kuduga ia kan menjawab seperti itu
“Maksud lo nggak bakal nolak ? jawab yang bener dong, serius nih” kutarik-tarik kedua pipinya
“Ladit shakit !” teriaknya gak jelas
“Iya iya gue mau kok jadi pacar lo” katanya sambil mengelus-elus pipinya yang mulai memerah
“Haaaaaaa Yes !!! Yes !!! Yesss !!! Huuuuu !!” Sorakku kegirangan sendiri mendengar kata-kata Arini, itu kata-kata yang selalu kuimpikan diucapkan oleh mulut Arini. Aku benar-benar tak percaya akhirnya bisa mendengar kata-kata itu. Aku terlalu bahagia sekarang.
“Apa-an sih lo ? aneh banget ?” kata Arini sambil tertawa geli melihatku melompat-lompat tak jelas.
“bodo amat. Eh liat, keren yah” kataku sambil membalikkan badanku menatap langit, entah mengapa langit sore hari ini benar-benar tampak indah, warna jingganya tampak lebih terang dari biasanya. Matahari perlahan turun dan digantikan oleh bulan.
“Keren” ucap wajah polos Arini yang penuh kekaguman. Perlahat tangannya menyentuh tanganku lalu kami pun bergandengan tangan. Kualihkan pandanganku kearahnya, sepertinya ia menyadarinya dan balik memandangku. Kami berpandangan cukup lama, perlahan tapi pasti wajahku dan wajahnya menjadi dekat dan sangat dekat. Pada akhirnya ciuman pertama kami pun terjadi saat matahari tenggelam dan bulan mulai bersinar.
Persahabatan kami yang berharga kini sudah berganti status, kami tak berfikir persahabatan kami hilang atau hancur. Kami tetap melakukan semuanya seperti biasa, walaupun terasa agak canggung diawal. Tapi akhirnya kami mulai terbiasa, hubungan kami jadi semakin erat karna kami memang sudah mengenal satu sama lain sejak dulu. Orangtua kami sangat senang dengan hubungan baru kami. Mereka mendukungnya, bahkan Ayah bilang akan mempersiapkan acara pertunangan untuk kami. Tapiku tolak, bagiku terlalu cepat untuk itu. Aku masih ingin menikmati masa SMA-ku yang indah sebagai pacar Arini, walaupun kelak aku juga ingin jadi tunangannya. Sekarang aku juga bisa memarahi Dika dan cowok-cowok lain yang suka menggoda Arini dengan alasan bahwa aku pacarnya. Hahaha Aku benar-benar bahagia dengan status baru kami. Lebih tepatnya Aku bahagia bisa mencintai dan dicintai oleh Arini.

- THE END -
 

A Random Girl Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei