Hanya karna aku buruk dalam hal menggambar aku sama sekali
tak berbakat dalam menghias kue, padahal aku anak pemilik toko kue yang lumayan
terkenal dikota. Ibuku benar-benar seorang seniman dia menerima pesanan kue
bergambar. Dia membuat kue dengan lambang klub sepak bola, kartun, animasi
semuanya dengan kedua tangannya, tidak ada mesin. Yah karna toko kami tidak
terlalu besar membeli sebuah mesin Edible image adalah pemborosan. Suatu ketika
pegawai ditokoku kecelakan, dia adalah asisten ibu yang bertugas menghias kue.
Karna kejadian itu Ibu jadi harus bekerja sendirian dan akhirnya jatuh sakit,
kami benar-benar kehilangan 'penghias kue' ditoko. Mencari pegawai baru akan
memakan waktu sementara pesanan kue sedang menumpuk. Itulah sebabnya aku
mati-matian mengejar Raka, teman sekampusku yang lebih mirip pajangan dari pada
mahkluk hidup dikelas. Dia orang yang dingin seperti es, tapi kadang dia hangat
seperti sinar matahari, dia juga kasar seperti batu, tapi disaat tertentu dia
bisa jadi orang yang lembut, sangat lembut. Awalnya kufikir dia hanya kuper,
culun, pemanis ruangan atau semacamnya tapi ternyata aku salah. Dia seorang
jenius yang terlalu larut dalam dunianya sendiri. Semua hasil karyanya
benar-benar menakjubkan bagiku !! Bahkan aku sudah jatuh cinta pada karyanya
sejak pertama kali aku melihatnya.

Siang itu
secara tidak sengaja aku melihat sesuatu dimading kampus. Sebuah tulisan
MANAJEMEN terpampang jelas ditengah-tengah gambar-gambar lucu yang memenuhi
kertas itu. Disudut kertas terdapat sebuah tulisan kecil “Doodle art by : Raka Sadika”. Nama yang cukup familiar ditelingaku.
Tidak, dia bukan pangeran kampus atau semacamnya, dia juga bukan orang yang aku
kagumi atau apa, dia hanya teman sekelas yang kelewat pendiam, sangking
pendiamnya dia jadi lebih mirip pajangan dari pada mahkluk hidup dikelas. Aku bergeser kesebuah komik pendek dengan cerita kocak dan
pesan moral disebelah Doodle art itu, dan ya ampun ! lagi-lagi yang kulihat
adalah namanya.
“Jadi tuh anak emang beneran jago
gambar yah ?” gumamku pada diri sendiri. Oke sudah kuputuskan ! Secepat kilat
aku membalikkan badanku dan berlari kekelas untuk mencari Raka.
“Raka !” Pekikku dengan wajah
sumringah bersamaan ketika tanganku membuka pintu. Kulihat semua orang sudah
duduk rapi dikelas. Mereka mendangku dengan wajah bingung, tak terkecuali Raka.
Sedetik kemudian aku menyumpahi diriku sendiri karna terlalu bersemangat.
“Kila ?” sahut pak Dodon yang
tengah berdiri di samping papan tulis. Aku lupa menyadari kalau aku sedang
terlambat.
“Maaf pak, boleh saya masuk ?”
tanyaku hati-hati
“Boleh, tapi jangan tanda tangan
absen” jawabnya tegas. Kampret nih dosen ! Selama ini aku rajin masuk kelas kan
cuma untuk mengisi absen ? kalau masuk tapi gak boleh isi absen mendingan bolos
aja kan ? Cih ! Tapi mau bagaimana lagi ? gak mungkin kan aku bilang “oh yaudah
pak, kalau gitu saya gak usah masuk aja” kurang ajar banget, ya gak sih ?
Akhirnya dengan berat hati, kulangkahkan kakiku menuju kursi kosong yang paling
dekat dengan Raka.
“Oke saya lanjutkan... Jadi,
elastisitas permintaan itu bisa dipengaruhi oleh perubahan harga..........”
lanjut pak Dodon menjelaskan. Entahlah aku tidak begitu memperhatikannya. Saat
ini aku tengah fokus memperhatikan Raka. Cowok dingin berkacamata dikelasku ini
ternyata adalah orang yang aku cari selama ini. Dia begitu dekat, tapi aku
tidak menyadarinya. Bodohnya aku !!
“Pst...psst....” kataku berbisik
mencoba memanggil Raka, dia menoleh.
“Lo yang gambar Doodle art
dimading ?” bisikku. Dia lalu mengertukan keningnya.
“Lo gambar Doodle art ? yang di
madding ?” bisikku lebih keras. Dia hanya membentuk O kecil pada mulutnya tanpa
mengeluarkan suara lalu kemudian mengangguk satu kali
“Keren !” kataku mengacunginya
jempol imut milikku
“Thanks” bisiknya datar lalu
kembali memandang pak Dodon. Kenapa sih dia ? apakah pak Dodon jauh lebih
menarik dari pada cewek cantik yang sedang berjuang mendekatinya ini ? ah masa
bodohlah dengan modus, toh aku orang yang tak suka basa-basi. To the point
ajalah.
“Eh, lo mau bantuin gue gak ?”
bisikku lagi, dia pura-pura tidak mendengarku
“Eh ! Raka ! mau bantuin gue gak
?” bisikku lebih keras, dia masih mengabaikanku
“Eh woy ! Raka ! Woy !” kulemparkan
sepotong karet penghapus yang tepat mengenai kepalanya.
“Aduh” eluhnya nyaring, dia lalu
memandangiku dengan garang.
“Ups. Sorry” bisikku pelan
“Kila !” Panggil pak Dodon
tiba-tiba
“Iya pak” sahutku spontan
“keluar ! udah telat, berisik
lagi !” bentaknya. JELB ! aku hanya bisa menelan ludah mendengarnya. Kulirik
Raka yang sedang memasang wajah “mampus lo” yang bisa terbaca dengan jelas
olehku. Kampret ! Kulangkahkan kakiku
keluar sambil berbungkuk-bungkuk ria meminta maaf pada pak Dodon
“Raka ! kamu juga !” Kata pak
Dodon lagi. Nah loh ? aku menoleh kearah Raka yang langsung berdiri dari
kursinya
“tapi pak, saya nggak ngapa-ngapain.
Kila yang.....” Dia membela diri ? tak kusangka dia sianak pendiam ini punya
nyali besar berani melawan sabda pak
Dodon
“Keluar sekarang atau nama kamu
saya backlist dari mata kuliah saya” Sambung pak Dodon tegas. Dosen ini emang
kelewat menyeramkan. Dengan berat hati Raka mengambil tas dan melangkah keluar
kelas dengan wajah kesal. Aku mengikutinya dari belakang.
“Ngapain lo ngkutin gue ?”
tanyanya dingin
“enggak, siapa yang ngikutin lo
!” jawabku dusta
“oh yaudah !” sahutnya jutek
kemudian lanjut berjalan didepanku, walau sebenarnya akulah yang berjalan
dibelakangnya.
“apa sih mau lo ?” tanyanya lagi ketika berbalik melihatku
“emmm, gimana yah ngomongnya,
emmm gue mau, lo bantuin gue bikin kue ! yah ? ” kataku sambil menggaruk-garuk
kepala
“kue ? lo bikin kita dikeluarin
dari kelas untuk buat kue ?” jawabnya kesal. Selama 2 semeseter aku sekelas
dengannya, baru kali ini aku melihatnya marah. Ini pemandangan langka.
“Bukan gitu, maksud gue. Lo ikut
gue dulu yah. Ntar gue jelasin !” bujukku.
“gak gak, sorry gue gak bisa
main-main. Lagi banyak kerjaan. Bye” katanya sambil berlari meninggalkanku
“ya tapi gue serius kali” gumamku
kesal seraya memandanginya berlalu.
Baiklah aku jelaskan mengapa aku
mengajaknya untuk membuat kue. Jadi, aku adalah anak seorang pemilik toko kue
dikota. Toko kue ini milik ibuku, tidak terlalu besar tapi kami punya banyak
pelanggan tetap. Mungkin karna toko kami menerima pesanan kue dengan gambar. Selain
aku dan ibu yang bekerja ditoko ada 3 pegawai lain yang membantu. Aku dan kak
Risa, dan kak Dara bertugas membuat kue, sementara 1 pegawai lain dan ibu yang
menghias kuenya. Tapi minggu lalu pegawai kami mengalami kecelakan dan
meninggal. Akhirnya ibu terpaksa menghias kue sendiri. Jujur saja aku benar-benar
buruk dalam hal menggambar. Jangankan menggambar diatas kue, dikertas saja aku
tidak bisa. Itulah sebabnya aku mencari seseorang yang pandai menggambar untuk
bisa membantuku walau cuma sementara selagi ibuku dirawat dan aku mencari
pegawai tetap yang baru. Tapi sepertinya rencanaku tidak akan berjalan dengan
lancar. Pffftt
“Gimana La ? dapet gak orangnya
?” Tanya kak Risa begitu saku sampai ditoko
“dapet sih, tapi kayaknya susah deh kak”
jawabku lemas
“lah kenapa kok susah ?” tanyanya lagi
“anaknya pendiam terus dingin
lagi, pasti susah ngajaknya”
“temen kuliah ?”
“iya, sekelas malah”
“cari yang lain aja La” saran kak
Risa
“cari dimana lagi ? anak kampus
yang paling keren gambarnya yah dia kak” jawabku mulai putus asa
“Yah gak mesti yang pinter gambar
juga kali la, yang penting bisa. Kalo kita gak dapet orangnya ntar gimana sama
pesanan kue yang udah numpuk ?” eluhnya
“hmmm, yaudah deh nanti aku
usahain lagi. Aku mau jenguk mama dulu. Jaga toko yah kak” kataku segera
beranjak kerumah sakit
“Mama, udah makan ?” sapaku
begitu sampai diruang rawat ibuku
“eh Kila, udah. Kamu gak kuliah
?” sambutnya hangat
“em kuliah, tapi lagi gak ada
dosen ma. Hehe” jawabku terpaksa berbohong, kalau tidak aku pasti akan diomeli
olehnya, bukannya aku ingin menyelamatkan diri dari omelan ibuku, tapi aku
tidak mau tekanan darahnya naik lagi gara-gara harus mengomeliku
“oh gitu, kamu bawa apaan tuh ?”
Tanyanya melirik kantong plastik yang kubawa
“oh, roti sama buah ma. Mau ?”
jawabku langsung meletakkan kantong itu keatas meja kecil disamping tempat
tidur ibuku.
“buah aja deh” jawabnya
“oke aku kupasin yah” kataku
mengeluarkan sebuah apel lalu mengupasnya
“gimana ditoko ? udah dapet
orangnya ?” Tanya ibuku, dia masih saja memikirkan toko, padahal sedang sakit
begini
“emm, udah kok ma. Mungkin besok
dia udah mulai kerja” jawabku lagi-lagi berbohong, walaupun tidak sepenuhnya
bohong. Aku tak ingin ibuku khawatir dan akhirnya memaksakan dirinya untuk
bekerja. Yah maklumlah selama ini kami hanya hidup berdua saja, satu-satunya
mata pencarian kami hanya toko kue itu. Ayahku sudah lama meninggal karna
sakit. Semua peninggalan ayah kecuali rumah ibu investasikan untuk membuka toko
kue itu, jadi tidak berlebihan kalau aku bilang toko itu sangat berharga
untukku, karna selama ini aku hidup dari hasil kue-kue yang dijual ibuku
disitu.
“siapa emangnya ?” tanyanya lagi
“temen sekelas, namanya Raka. Dia
jago banget ma gambarnya” jawabku dengan wajah bersemangat
“yang bener ? dia bisa gambar
diatas kue ?” tanyanya lagi
“emm, itu belum tau sih. Ntar
dicoba. Tapi kayaknya sih bisa ma. Pasti bisalah ! pokoknya harus bisa,
gambarnya aja keren gitu” jawabku maksa yang membuat ibuku tertawa melihat
tingkahku.
Aku berhasil pulang tanpa membuat
ibuku khawatir sedikitpun. Mungkin karna aktingku tadi memang sempurna dan
tidak tampak bohong sedikitpun, tapi karna itu aku jadi merasa bersalah pada
ibuku. Kalau sudah begini mau tidak mau aku akan terus memaksa si Raka untuk
membantuku. Yaampun jadi aku memang harus mengerahkan segalanya untuk ini.
***
Keeseokan harinya dikampus aku
mengajak Raka lagi, kali ini aku kekampus benar-benar hanya untuknya bukan
kuliahku lagi.
“Raka” panggilku saat kutemukan
dia ditengah kerumunan mahasiswa di lobi. Dia menoleh sedetik lalu kemudian
terus berjalan dan mengabaikanku. Sialan !
“Woy Raka !” teriakku lagi
berusaha mengejarnya, tetapi orang-orang ini menghalangiku. Semenit kemudian
dia sudah hilang dari pandanganku. Cepat sekali kaburnya. Huh dia tega sekali
sih menelantarkan aku seperti ini.
Aku masuk kelas tetapi tidak ada Raka disana. Apakah dia bolos
kuliah ? tumben ? Aku keluar kelas dan berkeliling kampus mencarinya tapi dia
juga tidak ada. Kemana sih perginya anak itu ? seperti hantu saja, tiba-tiba
saja lenyap tanpa jejak, ada dikelas tapi kehadirannya tak kasat mata. Aggrr
mahkluk apa sih dia itu ?
Nafasku sudah ngos-ngosan
berkeliling mencarinya kesegala penjuru kampus, aku berhenti disebuah taman
kecil didekat parkiran, ada sebuah kursi taman disana, kusandarkan tubuhku yang
lelah diatas kursi sambil mengusap keringat dan mengatur nafas. Huh padahal aku
sudah bilang pada ibu untuk membawa Raka ketoko hari ini. Bagaimana ini ? aku
tidak bisa menemukannya ? apa yang harus kulakukan ?
“all her life she has seen
All the meaner side of me,
They took away the prophet’s
dream for a profit on the street”
kudengar suara seseorang menyanyi, dia menyanyikan lagu The Script –
Superheroes. Ini salah satu lagu yang sering kudengarkan saat ini, aku juga
menyukai beberapa llirik lagunya.
“Now she’s stronger than you know, a heart of steel starts to grow” sambungku
ikut bernyanyi bersama orang itu, aku beranjak dari kursi dan kulihat seseorang
laki-laki sedang duduk dibawah pohon sambil memegang semacam buku gambar dan
pensil. Dia menoleh kearahku.
“Raka ? Sialan lo!! gue cariin
dari tadi rupanya disini lo yah ? dasar kampret !” ucapku begitu menyadari
bahwa orang ini adalah orang paling kampret sekampus. Aku sudah dibuatnya
menggeledah seisi kampus dan ternyata dia sedang asik-asik disini menggambar
sambil ngemil ?
“Ah lo lagi, lo lagi ! ngapain
sih lo nyariin gue ? kalo lo ngajakin gue buat kue, gue gak mau. Gue gak bisa
buat kue tau. Gila lo yah ?” jawabnya jutek
“ya siapa juga nyuruh lo buat
kue, gue cuma minta lo nge-hias kuenya aja” jelasku berusaha lembut padanya
“nge-hias ? buat apa ? kenapa
juga harus gue ?” tanyanya bingung
“ya makanya, lo dengerin gue dulu
! lo sih main kabur-kabur aja !” kataku seraya duduk disampingnya
“salah lo sendiri ngeselin.
Seumur-umur gue gak pernah dikeluarin sama dosen kayak gitu !” jawabnya kesal.
Yaampun gak nyangka anak pendiam kayak gini rupanya omongannya pedas juga.
“ya maaf, gue kan gak maksud
gitu, lagian lo songong banget, gue ngomong gak didengerin !” balasku membela
diri
“ya gak pake ngelempar gue pake
penghapus juga kali” balasnya lagi
“okedeh sorry gue yang salah”
kataku mengalah, untuk saat ini aku harus buang jauh-jauh dulu sifat egois dan
kekanak-kanakanku. Prioritas utamaku adalah membuatnya mau membantuku
“ya emang lo salah kan” jawabnya
jutek. Ih kenapa sih dia ? dari tadi cuma asik ngegambar doang, jawab omonganku
juga dengan nada jutek kaya gitu. menyebalkan !
“y-yaudah, gue kan udah minta
maaf” jawabku memelas.
“lo fikir minta maaf aja cukup ?
gue udah 2 kali absen matkulnya pak Dodon, berkat lo sekarang jadi 3. Kalau
sekali lagi gue absen gue bakal gak lulus mata kuliah dia, tau gak !” Dia
mengomeliku ? apa-apaan dia ? dia fikir dia siapa ?
“kok lo marahin gue sih ?”
bentakku tak terima
“ya karna lo salah !”
“kan gue udah minta maaf !”
“udah gue bilang maaf lo itu gak
ada artinya tau gak !”
“lo kok ngeselin banget sih ?”
“lo fikir lo gak ? udahah males
gue berantem sama cewek ! ribet !” jawabnya seraya mengemasi barang-barangnya
dan pergi meningglkanku. Ih kenapa sih dia ? Raka sipendiam yang ku kenal
dikelas rupanya cowok dingin yang super jutek ! gak nyangka banget !
Tiba-tiba saja aku teringat ibuku
yang sedang terbaring lemah dirumah sakit.
“Raka, tunggu !” kukejar lagi dia.
Dia yang menyadari aku mengejarnya kemudian mempercepat langkahnya dan kemudian
berlari, duh nih anak kok hobby banget sih lari-lari. Capek tau ngejarnya.
“Eh Raka ! tungguin gue !!”
teriakku dengan nafas yang sudah mulai ngos-ngosan. Kami sudah berlari cukup
jauh bahkan sudah bukan dilingkungan kampus lagi.
“kenapa sih lo ngikutin gue terus
?” teriaknya yang masih laju berlari didepanku
“gue butuh lo, plis dengerin gue
dulu. Berenti Raka” balasku yang masih setia berlari dibelakangnya
“gue sibuk tau ! gue gak punya
waktu buat bantuin lo” teriaknya lagi
“lo punya kok, buktinya lo mau
lari-larian sama gue” jawabku asal
“gue benaran sibuk tau !”
jawabnya masam lalu mempercepat larinya, sial aku sudah tidak punya tenaga lagi
untuk mengejarnya.
“pak pak, tangkapin temen saya
pak !” teriakku pada 3 orang bapak-bapak yang sedang duduk diwarung kopi
pinggir jalan, mereka menatapku heran.
“Dia, dia maling pak, iya. Maling
maling !” teriakku asal. Bapak-bapak itu pun lalu berlari mengejar Raka.
“Woy, gila lo yah !” teriaknya
padaku, kurasa dia akan marah tapi mau bagaimana lagi. Aku harus menangkapnya,
dan hanya itu ide yang terlintas dikepalaku.
Rakapun akhirnya tertangkap.
Segera ku hampiri dia sebelum dia dipukuli warga. Aku harus menyelamatkannya.
“Saya bukan maling pak ! saya
bukan maling” katanya berusaha melindungi dirinya yang sudah dikelilingi warga
“Pak tunggu !! jangan dipukulin
!” Teriakku seraya berlari menghampirinya
“Dia temen saya, dia temen saya.
Jangan dipukulin” ucapku dengan nafas yang benar-benar kacau dan keringat yang
mengucur dipelipisku
“lah ? maling ini teman mbak ?”
Tanya bapak-bapak gendut berbaju putih
“iya, dia teman saya pak, jadi
sampe sini serahin kesaya aja” jelasku berusaha bernegosiasi pada warga untuk
membebaskan si Raka
“mbak yakin ? gak perlu dibawa ke
kantor polisi ?” Tanya bapak-bapak itu lagi
“eh ? gak gak gak pak, gak usah.
Gak papa, makasih yah pak udah bantu nangkepin” jawabku cepat seraya menarik
tangan Raka
“huuu dasar maling !”
“temen sendiri aja dimalingin,
untung temennya baik”
“hati-hati mba, awas temennya maling
lagi” Begitulah cemoohan warga pada kami, lebih tepatnya pada Raka. Kasihan
dia. Hahaha.
“Lo gila yah ! gue bisa aja mati
dipukulin tadi tau gak ?” pekiknya tepat disamping telingaku.
“tapi gak kan ?” jawabku santai
sementara Raka hanya menatapku kesal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak
percaya dengan kelakuanku yang dia sebut ‘gila’ itu
“Sorry deh sorry. Lo juga, kalo
aja lo gak lari tadi gue kan gak bakal ngelakuin itu” kataku membela diri
“kan gue udah bilang gue gak
bisa, gue sibuk ! gigih banget sih lo ngejar-ngejar gue” omelnya lagi
“yah mau gimana lagi, gue butuh
bantuan lo banget ! pliss, cuma sampai gue dapet karyawan baru” kataku memohon
memelas padanya
“La, gue gak bisa ! gue juga lagi
banyak kerjaan. Plis, cari orang lain aja. Oke ?” katanya mencoba menjelaskan
padaku baik-baik
“huh ! terus gue harus gimana ?”
kataku lemas, tiba-tiba tubuhku pun terasa begitu berat, kakiku serasa tak kuat
lagi untuk berdiri, aku pun terududuk ditepi jalan
“La ?” kata Raka mendekatiku, dia
memegang pundakku, sedetik kemudan pandanganku gelap, aku pingsan.
Seluruh badanku sakit, kepalaku
serasa ditusuk-tusuk ratusan jarum, mataku terasa terlalu berat untuk dibuka,
tapi aku berjuang keras membukanya karna aku benci kegelapan. Samar-samar ku
lihat plafon berwarna biru langit diatasku, apa ini ? aku tidak sedang dirumah
? Tempat sempit ini, apa aku tidur diatas sofa ?
“gue dimana ?” kataku pelan
“udah sadar ? lo dirumah gue”
sahut Raka yang rupanya sedari tadi ada disampingku sambil mengerjakan sesuatu
diatas meja. Sesaat kemudian aku sadar tadinya aku sedang dipinggir jalan
dengannya dan kemudian aku pingsan.
“Aduuuuhh” kataku saat berusaha
bangun sambil memegangi kepalaku yang masih terasa berdenyut-denyut
“Nih makan dulu, lo pasti
kecape’an gara-gara ngejar gue tadi makanya lo pingsan” katanya sambil
menyodorkanku sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi,potongan sosis dan
timun diatasnya. Tanpa ragu kuraih piring itu dan segera memakannya.
“Enak” kataku begitu menyantap
sesuap saja
“makasih” jawab Raka santai
“eh ? kok makasih ?” tanyaku
heran
“lo bilang masakan gue enak, ya
gue blg makasih lah, kan ?” jawabnya lagi
“lo yang masak ?” tanyaku tak
percaya
“yaiyalah, emang siapa lagi ? gue
kan tinggal sendiri” jawabnya cuek
“loh ? nyokap sama bokap lo ?” tanyaku
lagi-lagi bingung
“orangtua gue cerai, bokap gue
pindah keluar kota, nyokap gue tinggal dirumah suami barunya. Tapi kadang dia
kesini sih nengokin gue” jawabnya santai namun tetap cuek
“lo gak ikut sama nyokap lo ?”
tanyaku lagi
“nggak, gue gak cocok sama bokap
tiri gue” jawabnya acuh tak acuh
“oh gitu” kataku sambil
mengangguk-angguk tak jelas
“kalo udah selesai makan cuciin
piringnya sekalian yah” katanya tiba-tiba membuatku terkejut
“oh iya, obatnya jangan lupa
diminum. Sorry gak bisa ngelayanin lo, gue lagi sibuk banget soalnya” katanya yang
memang kelihatan sedang sibuk, dari tadi ia bicara denganku tapi tak sedikitpun
ia memalingkan pandangannya dari kertas yang sedang sibuk ia gambar. Seperti
yang ia katakan tadi selesai makan aku langsung meminum obat dan mencuci
piring-piring kotor didapurnya. Untung tidak terlalu banyak.
“lo ngerjain apaan sih ?” tanyaku
penasaran saat kembali dari dapur
“komik” jawabnya cuek
“lo mangaka ?” tanyaku lagi
“kok lo tau istilah itu ?”
tanyanya heran
“ya tau aja, dulukan gue suka
baca manga” jawabku sambil mengambil
lembaran lembaran yang berserakan diatas meja
“gambar lo bagus juga, lo ngisi
dimajalah ?” kataku sambil melihat-lihat lembar perlembar yang masih polos itu
“gak, ini buat lomba. Kalo menang
dan ceritanya bagus katanya sih diterbitin, terus dapat kontrak gitu” jelasnya
“oh, jadi lo lagi sibuk ngerjain
ini ? pantes aja. Kapan deadline-nya ?” tanyaku mulai bersemangat
“2 hari lagi, tapi gue belum
selesai-selesai juga !”
“emm, kalo gue bantuin gimana ?
mungkin bakal bisa cepat selesai kan ?” tawarku
“emang lo bisa ?” katanya yang
kemudian berhenti menggambar dan memandangiku serius
“ya lo ajarin gue lah, ka lo cuma
ngitemin sama nempel latar belakang harusnya sih bisa” kataku yakin
Dia pun kemudian mengajariku
menghitamkan dan menempelkan latar belakang. Untung saja aku bisa melakukannya,
aku jadi bisa membantunya agar bisa selesai lebih cepat. Kami bekerja sambil
berbicara banyak hal, ternyata dia punya selera yang sama denganku, dia juga
bukanlah orang yang membosankan dan tak sepenuhnya ia jutek. Dia hanya
mencintai dunianya, bahkan tak jarang ia terhanyut dalam dunianya sendiri
sampai-sampai ia melupakan orang-orang disekitarnya. Dia juga sebenarnya orang yang perhatian, dan
baik tentunya. Sangking asyiknya tak terasa kalau kami sudah mengerjakannya
sampai malam. Dan aku tertidur dimeja itu.
“Raka..” kataku begitu terbangun,
samar-samar kulihat dia tertidur diatas meja. Kilirik jam dinding, sudah jam 3
pagi, yaampun kami benar-benar ketiduran. Kukumpulkan semua kertas yang
berserakan diatas meja, kususun halaman perhalaman, sudah selesai rupanya.
Akupun mulai membaca manga itu, ceritanya cukup bagus sampai membuatku tak
berhenti membuka halaman perhalamannya, ditambah seninya yang benar-benar keren
dan detail. Sudah kuduga dia memang luar biasa.
Kulirik dia yang tengah tertidur
pulas. Huh, sial. Dia tampak begitu polos tanpa kacamatanya, dan tampan tentu
saja. Walaupun dia pendiam dan dianggap pajangan dikelas, dia tak pernah
dikatai kuper atau culun oleh anak-anak. Yah karna dia memang tidak seperti
itu. Tidak semua cowok berkacamata yang pendiam itu culun tau ! Buktinya dia nggak, dia hanya berbeda dari
anak lainnya. Dia hidup didunianya, dunia yang berbeda dari kita, dunia yang ia
buat sendiri dan dia bebas ngelakuin apa aja disana. Dan itu keren menurutku.
Lihat aja hasil-hasil karya yang pernah ia buat. Semuanya keren, karna itu
adalah dunianya. Sementara duniaku ? Sejenak aku tersadar bahwa dunia kami
memang berbeda, dia seniman sedangkan aku ? aku hanyalah anak pemilik toko kue
yang taunya hanya membuat kue. Dia mengubah kertas polos jadi sebuah karya yang
indah bukan mengubah sepotong kue bolu jadi kue ulangtahun. Tangannya memang
pantas berada diatas kertas bukan diatas kue. Setelah berfikir begitu keras,
akhirnya aku menyerah. Aku pulang setelah membereskan pekerjaan Raka.
Subuh-subuh buta aku pergi ke toko. Beruntungnya rumah Raka berada tak jauh
dari tokoku.
Tak ada orang. Aku pergi kedapur
dan mengambil sepotong kue yang masih polos. Kulihat kertas-kertas kecil yang
memenuhi papan pesanan yang digantung didinding. Doraemon, Madrid, Spongebob,
Hello Kitty, Barca, Owl, dan beberapa gambar yang direquest oleh para pembeli.
Kucoba membentuk sebuah lingkaran berbentuk oval, aku mencoba membuat kepala
Hello kitty, aku mencoba dan terus mencoba, tapi seperti dugaanku, hasilnya
benar-benar payah, bahkan ini sama sekali tak mirip dengan kucing. Aku
benar-benar payah dalam hal menggambar, aku biasa menghias kue standard, bukan
menggambar diatasnya. Walaupun peralatan untuk menggambar diatas kue sudah
lengkap ditoko tapi tetap saja mustahil bagiku yang tidak punya bakat. Huh
bahkan akhir-akhir ini kami hanya membuat cupcake standard saja, tidak ada
gambar lucu diatasnya. Kalau begini terus bisa-bisa kami kehilangan pelanggan.
Bagaimana ini apa yang harus aku lakukan ???
***
Hari
ini aku bolos kuliah. Aku lebih memlih membantu ditoko dari pada keluyuran
dikampus, toh kalaupun masuk kelas aku tak akan bisa belajar karna kefikiran
toko terus, jadi lebih baik aku tidak kuliah sama sekali. Lagipula aku sudah
menyerah memaksa Raka, jadi apa gunanya aku kekampus ? tak ada kan ?
Seperti biasanya aku membuat
adonan kue didapur, memanggangnya lalu menghiasnya. Tentu saja hiasan standard
seperti kue ulangtahun pada umumnya. Disamping kue ulangtahun aku juga membuat
cupcake, kue ini juga sedang laris dan banyak dipesan akhir-akhir ini. Tentu
saja yang bergambar lucu. Tapi yah, seperti biasa aku hanya membuat yang
standard, tanpa gambar lucu diatasnya.
“Kila, gimana temenmu ? mau
bantuin toko ?” Tanyanya ketika aku sedang menghias cupcake
“emm, kayaknya gak bisa deh mba.
Ntar cari yang lain aja deh” jawabku pasrah
“hah ? kamu bilang kemaren dia
bisa laa. Terus gimana dong sama pesanan kuenya ?” keluh kak Risa
“yah gimana mba, dianya gak bisa.
Udah aku paksa tapi tetep gak mau”
“udah, ntar telpon aja semuanya
bilang kalau kita lagi gak bisa bikini kue kayak dipesanan, tanyain mau gak diganti yang standard ? kalau gak mau
yah suruh pesen tempat lain aja” jawabku polos
“Somplak kamu ! kalau gitu mah
sama aja kita ngasih pelanggan ketoko orang” katanya sambil menjorng kepalaku,
dih kejam banget sih !
“Aduh ! mau gimana lagi kan mba ?
dari pada pas hari H-nya mereka dateng terus kuenya gak ada ? yang ada kita
malah dimarah-marahin ! ogah ahh aku !” balasku sekenanya
“Aduh, iya juga sih. Mana kita
belom ada yang ngelamar lagi” keluh kak Risa lagi
“Kila, ada temenmu cariin” kepala
kak Dara tiba-tiba muncul dari balik pintu dapur. Hari ini giliran dia yang
jadi kasir, jadi hanya dia yang berjaga didepan sementara aku dan kak Risa
dibelakang membuat kue
“siapa ?” tanyaku heran
“gak tau, cakep sih tapi, pacarmu
yah ?” goda kak Dara. Sejak kapan aku punya pacar ? ada-ada saja.
Aku melepas celemekku dan atribut
dapur lainnya. Kubersihkan tangan dan wajahku yang bertepung lalu pergi keluar.
Seorang pria berdiri menghadap keetalase, dia memandangi kue-kue yang tersusun
didalamnya. Sepertinya kenal,
“Raka ?” panggilku yang
membuatnya langsung menoleh
“eh, jadi bener ini toko lo ?”
tanyanya sambil tersenyum
“iya, lo tau dari mana ?” tanyaku
heran
“gue nanya anak kelas, eh taunya
tokonya deket sama rumah gue” jawabnya lagi, dia nanya ke anak-anak ? tumben ?
“ya elo sih sibuk sama manga lo
terus” ledekku
“oh iya, makasih yah semalem udah
bantuin gue. Kalo gue kerja sendiri mungkin masih belum selesai nih sekarang.
Btw, manganya udah gue kirim loh, do’ain menang yah” katanya besemangat. Hahaha
kuberitahu sebuah rahasia, kalau ingin lihat wajah bersemangat Raka yang
langka, keywordnya adalah “manga” dan hal-hal berbau jepang lainnya. Karna dia
adalah murni seorang otaku !
“langsung lo kirim ? emm, manga
lo bagus kok gue udah baca, gue yakin pasti menang !”balasku ikut bersemangat
“lo baca semuanya ? kapan ?”
Tanya kaget
“iya, yah tadi pagi”
“sebelum lo kabur dari rumah gue
?”
“hehehe, sorry. Gue gak enak
bangunin lo, soalnya pulas banget sih tidurnya” kataku sambil memegang leherku
sendiri.
“Dasar lo ! gak sopan ! udah ngeliatin
gue tidur, pulang gak pamit-pamit lagi” katanya sambil menjentik dahiku
“awww” pekikku spontan
“Eh gue mau kue ini dong,
kayaknya enak deh” katanya sambil menunjuk cupcake cokelat dengan cream putih
dan butiran cokelat diatasnya
“oh iya” kataku yang langsung
mengambilkan kue itu untuknya, ia menunjuk bebarapa cupcake lagi yang serupa,
semuanya cokelat.
“Lo suka cokelat ?” tanyaku
“kenapa ? salah ?” tanyanya
sambil tersipu. Lucu !
“enggak sih, baru tau aja kalo
orang sedingin lo suka cokelat !” balasku sekenanya
“Eh yang ini gak usah dibungkus”
katanya yang langsung mengambil cupcake cokelat yang dipilihnya pertama kali,
lalu segera memakannya.
“enak !” serunya setelah beberapa
kunyahan berlalu
“enak yah ? makasih” jawabku
sambil terkekeh
“eh ? ini lo yang buat ?”
tanyanya heran
“iyalah. enak kan ?” balasku
girang
“iya enak !” katanya dengan mulut
yang masih penuh dengan kue. Kuambilkan segelas air aqua untuknya, untuk
jaga-jaga kalau-kalau dia tersedak.
“lo kenapa gak kekampus ?”
tanyanya lagi
“lagi banyak pesanan” jawabku
polos
“oh, udah dapet orang yang
bantuin lo ngias kue ?” tanyanya lagi
“ya belom sih” jawabku
“lah terus ? lo bilang banyak
pesanan kue yang bergambar”
“iya emang banyak, tapi... ya gue
bisanya ngehias kayak gini aja, standard. Mau gimana lagi, kalo gak dapet
orangnya yaudahlah pasrah aja” jawabku lesu
“bego lu ah !” katanya sambil
menjentik dahiku lagi.
“awww ! sakit tau kaa !!” pekikku
kesal
“yah, gue gak yakin sih bisa
ngehias kue, soalnya gue belom pernah nyoba. Tapi gue mau kok bantuin lo”
katanya pelan tapi serius
“eh ? yang bener ka ? lo serius
?” semangatku langsung meningkat 90 derajat
“iyaa, soalnya lo udah bantuin
gue sih. Emm anggap aja gue balas kebaikan lo. Lagian gue juga belom ada
kesibukan apa-apa lagi selain nunggu pengumuman lomba” jelasnya malu-malu
“AAAhh Rakaaaaaa !! Lo emang
penyelamat gueeeeee !!!!” kataku yang langsung meraih kedua tangannya dan
menggenggamnya seerat mungkin karna senang
“Oke sekarang ikut gue kedapur !”
kataku yang langsung menyeretnya masuk
“y-ya tapi gak sekarang juga kali
la, gue kan belom ada persiapan” gerutunya pelan, walaupun aku dengar tapi
tetep saja kuabaikan
“kak Dara, jaga depan” kataku
yang mengagetkan kak Dara yang tengah membantu kak Risa didapur
“lah kenapa la ?” tanyanya
bingung
“udah jaga sanaaa” kataku yang
kemudian mendorngnya keluar dapur
“kak Risa, ambilin kue bulat yang
dilemari kak” pintaku pada kak Risa, sementara aku mengeluarkan peralatan
menggambar ibu
“yang mana ?” tanyanya bingung
“yang udah aku olesin krim putih”
kataku lagi, kak Risa lalu mengambil kue itu dan meletakannya diatas meja
didepan Raka.
“Oke, coba bikin yang
gambang-gampang dulu, kayak hello kitty atau doraemon” kataku sambil
menyerahkan krim padanya.
“emm, kalo Hello kitty kepalanya
doang apa satu badan ?” tanyanya yang sudah siap menggambar
“kepala aja” jawabku cepat
“oke, gue coba yah” katanya
santai tapi tangannya sedikit bergetar karna gugup. Walaupun begitu ia bisa
mengarahkan krim dengan baik, dan ajaibnya kepala Hello kitty yang imut
langsung terbentuk dalam beberapa detik saja. Yah walaupun belum sempurna sih
bentuknya tapi tetap saja ini bagus.
“Waah jadi” pekik kak Risa
bersemangat
“gimana ?” Tanya Raka sambil
melirikku
“lumayanlah buat pemula” jawabku
angkuh
“lumayan apanya ? ini 100 kali
lebih bagus dari pada punya kamu la !” sahut kak Risa, ih nih orang ! yah
walaupun kata-katanya frontal tapi dia benar sih. Fuhh !
“masih bagusan punya ibu sih,
tapi yah bagus kok ka” jawabku seraya mengambil kue itu lalu merapikan beberapa
bagian yang agak berantakan dan menambahkan beberapa sentuhan.
“Sip ! satu pesanan udah siap
sekarang !” seruku begitu selesai
“Wahh, kita terselamatkan !” seru
kak Risa yang langsung membawa kue itu kembali kelemari. Ia lalu membawa
beberapa kue yang masih polos dan menaruhnya didepan Raka.
“lanjutkan yah nak ! pesanan kita
masih banyak, selamat bekerja !” kata kak Risa santai yang membuat Raka menelan
ludahnya sendiri
“hahaha, udah santai aja gue
bantuin” kataku yang langsung mengambil kertas pesanan.
“hari ini kita buat 3 kue
ulangtahun aja kok, soalnya besok mau diambil” kataku lagi yang membuat Raka
mengehela nafas, dia benar-benar lega. Haha
“Hello Kitty udah, jadi sisa
upin-ipin sama doraemon. Bisa ?” tanyaku
“ada contoh gambarnya gak ? jujur
gue cuma ngeliat diyoutube dan ini pertama kalinya gue coba, gue masih belom
biasa” balasnya polos
“lo belajar diyoutube ? terus
yang tadi percobaan pertama ? hebat, gue yakin 2 tahun kedepan lo bisa jadi
pembuat kue yang handal ka” ledekku
“mana mungkinlah bego ! gue cuma
ngegambarnya doang, yang buat kuenya jadi enak kan elo bukan gue !” katanya
lagi-lagi menjentik jidatku, ini kebiasaannya atau apa sih ? suka menjentik
jidat orang ?
Akupun memberinya beberapa contoh
gambar kue yang pernah dibuat ibu. Kami akhirnya membuatnya bersama, tak butuh
waktu lama kue itupun akhirnya jadi. Dan hasilnya ? yah cukup memuaskanlah.
Setelah itu ia pulang dan berjanji akan datang lagi besok untuk membantuku
ditoko. Kuharap dia menepati janjinya.
***
Seperti yang ia bilang, ia datang
lagi ke tokoku pagi-pagi sekali. Karna hari ini kami tak ada jadwal kuliah ia
bilang mungkin akan membantu seharian ditoko. Kami menyelesaikan banyak pesanan
dalam sehari. Dia juga mulai menggambar cupcake. Toko kamipun kembali seperti
semula, kue-kue yang lucu dan berwarna. Pelanggan yang ramai dan pesanan yang
terus datang setiap hari. Yaampun dia benar-benar membantu. Dia datang setiap
hari untuk membantu, semakin hari gambarnya semakin rapi dan lucu. Sudah kuduga
dia memang luar biasa.
Karna hal ini aku dan Raka jadi
dekat. Kami juga sering bersama dikampus, dia tak lagi dingin seperti dulu, yah
setidaknya dia lebih ramah sekarang walaupun hanya padaku. Kehadirannya dikelas
kini lebih terasa ada dibanding dulu, dia sudah naik pangkat dari pajangan
menjadi mahkluk hidup. Walaupun begitu sifat cueknya tetap saja tidak hilang. Buktinya
saat semua orang menggodanya karna sering terlihat bersamaku dia tak pernah
menggubrisnya. Malah aku yang sibuk menyangkal kalau kami tak punya hubungan
sespecial itu.
Yah, Terkadang dia memang
menyebalkan tetapi sebenarnya dia orang yang baik, dan perhatian. Buktinya dia
susah payah membawaku kerumahnya saat aku pingsan dijalan, membuatkan makanan
untukku pula. Padahal aku sudah meneriakinya maling hanya untuk menangkapnya.
Bukti lain, dia yang awalnya ngotot menolak membantuku ujung-ujungnya datang
sendiri ke toko dan menyerahkan diri.
Sudah 2 minggu sejak ia bekerja
di tokoku. Dan akhirnya hari ini ibu diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Karna sangking semangatnya Ibuku langsung ketoko keesokan harinya. Walaupun aku
belum mengizinkannya untuk bekerja. Alasannya sih dia ingin bertemu Raka.
“Ka” panggilku saat kami sedang
bekerja bersama didapur
“em ?”
“kemarin nyokap gue pulang dari
rumah sakit loh” kataku
“yang bener ? bagus dong !”
jawabnya
“iya, dia bilang udah kangen sama
toko makanya pengen cepet-cepet keluar, tadi aja dia bilang nanti siang mau
kesini”
“semangat banget ? yakin gakpapa
tuh nyokap lo ? baru sembuh juga”
“dia bilang sih hari ini pengen
ketemu lo aja, besok dia bilang udah mulai kerja lagi”
“hmmmm...”
“jadi mulai besok lo gak perlu
cape-cape bantuin gue lagi, lo udah bebas ngegambar sesuka hati lo, hehe”
kataku hati-hati, jujur saja aku merasa aneh saat mengucapkannya
“kapan nyokap lo datang ?”
tanyanya tanpa memperdulikan apa yang baru saja kukatakan
“bentar lagi kayaknya” jawabku
sambil melirik jam
“oh iya, pengumuman lomba lo
kapan ?” tanyaku beberapa saat kemudian
“2 hari lagi” jawabnya
“wah bentar lagi dong !”
“iya, degdegan gue !” katanya
“haha tenang aja, pasti menang
kok ! yakin gue !”
“yeee emang lo jurinya !”
“ntar kalau menang gue kasih
hadiah deh !”
“apaan ?”
“rahasia dong ! kalau mau tau ya
harus menang !”
“kalau gue gak menang berarti gak
dapet hadiah dong ?”
“yaiyalah !”
“tambah sakit dong gue kalau
kalah”
“tapi kalau menang dapat hadiah
double kan ?”
“ahh dasar lo !” katanya sambil
mencolekan krim dihidungku
“hua ! Rakaa !!” kubalas dia
dengan memberi tepung dikedua pipinya.
“Seneng amat buat kuenya ?”
tiba-tiba ibu muncul dari balik pintu
“mama !” seruku
“eh, siang tante” kata Raka
“Raka yah ? emm, bagus banget
gambarnya ! makasih yah udah mau repot-repot bantuin tante sama Kila” kata ibu
sambil melirik kue yang baru saja kami selesaikan
“Enggak repot kok tante, saya
seneng bisa bantu-bantu disini. Soalnya kuenya juga enak-enak. Hehe” jawab raka
cengengesan
“Alhamdulillah kalau gitu. udah
istirahat dulu !” kata ibu memerintahkan kami berdua
Kami pun istirahat dan makan
bersama, setelah itu membuat beberapa cupcake dan menghiasnya. Dan akhirnya
sudah waktunya Raka untuk pulang.
“Raka makasih banget yah udah mau
bantuin tante” kata ibu sambil menyalaminya lalu memberinya amplop. “ini tanda
terimakasih tante karna udah mau bantuin Kila”
“banyak banget tante, aduh tante,
ini....” kata Raka
“udah ambil aja, ini malah gak
sebanding sama pelanggan-pelanggan tante yang udah kamu selamatin”
“tapi tante...”
“udah !” kata ibuku yang
membuatnya tak bisa bicara lagi
Aku lalu mengantarnya keluar toko.
“Jadi, besok gue udah gak kerja
disini lagi yah ?” katanya sambil memandangi tokoku dari luar
“kenapa ?” kataku terkekeh
“gakpapa sih, cuman kesel aja gak
bisa nyolekin krim sama cokelat kemuka lo lagi !”
“itu yang bikin lo kesel ? Ugh !”
“Hehe, yaudah yah. Gue pulang”
“iya, hati-hati yah”
“sip” katanya sambil berjalan
meninggalkanku
“Raka” panggilku yang membuat
langkahnya terhenti
“em ?” ia berbalik memandangku
“Makasih, banget” ucapku dengan
senyuman paling tulus dan yang pernah kubuat
Ia terkekeh “iyaaa” katanya yang
mungkin kesal karna dapat ucapan terimakasih terus dari tadi.
Akupun hanya bisa memandangi
punggungnya yang menjauh. Entah mengapa saat kembali ketoko rasanya sepi.
Walaupu ada kak Lisa, kak Dara dan Ibuku disini, tapi jika tak ada Raka rasanya
aneh. Sejenak aku sadar bahwa aku mungkin akan merindukannya.
***
Semuanya kembali seperti biasa.
Aku pergi kekampus dan kuliah seperti biasa tanpa harus mengkhawatirkan toko
lagi. Pulang kuliah aku langsung ketoko membantu ibuku membuat berbagai macam
kue dan menjaga toko. Kehidupanku kembali seperti biasa. Hanya saja ada yang
beda setelah semua ini.
Raka. Dia yang dulunya hanya
pajangan kelas sekarang entah mengapa terlihat seperti kue cokelat lembut
dengan krim putih yang menggoda dan tumpukan strawberry diatasnya, membuat
mataku selalu tertarik untuk melihatnya. Dia yang dulunya kufikir hanya seorang
culun yang cuek sekarang sudah merubah image-nya menjadi pria yang keren dan
lembut dimataku. Dia diluar dugaanku.
“kenapa liat-liat?” tanyanya
jutek. Koreksi ! dia gak lembut sama sekali !
“ih pede banget lu !” jawabku
ketus
“oh kirain lo naksir gue”
jawabnya yang langsung membuatku salah tingkah
“hah ? gue? naksir lo ? gak mungkin lah ! mimpi lo !”
jawabku asal
“emmm” ucapnya memonyokkan
bibirnya mengolokku. Dasar kampret !
“eh, lo lagi gambar apaan ?”
tanyaku penasaran sambil memanjangkan leherku melihat drawing book yang dipegangnya.
Cepat-cepat ia menutup buku itu.
“loh ?”
“i-ini fail !”
“fail ?”
“iya ! jelek banget gambarnya !”
“jelek ? oh jadi orang sehebat lo
bisa gagal juga yah kalo gambar”
“ya bisalah, eh besok bawain gue
cupcake cokelat yang kemaren dong ! yah ?” pintanya
“lo mau pesan ? iya deh gue
bawain !”
“he’eh ! enak banget soalnya, gue
suka !”
“iya tau gue, eh besok hasil
lomba lo keluar kan ?”
“iya, besok”
“jam berapa ?”
“katanya sih jam 12 siang, oh iya
besok gue ngumpul sama komunitas gue di gedung sebelah, mereka bilang mau liat
pengumumannya sama-sama. Kalo lu mau
anterin cupcakenya kesebelah aja yah”
“sip” jawabku mantap
Entah mengapa aku yang merasa
yakin kalau karyanya Raka yang akan menang. Jadi saat aku ketoko aku segera
membuat banyak cupcake cokelat untuknya. Dan kubuat satu cupcake yang berbeda.
Satu cupcake yang mewakili perasaanku padanya. Satu cupcake yang hanya kali ini
saja aku buat, dan hanya untuknya saja akan kuberikan. Dengan riang kubungkus
cupcake-cupcake itu. Dan keesokan harinya kubawa dan akan kuberikan pada Raka.
Drrrttt.....Drrrrrtttt......
ponselku berbunyi. Raka !
“Halo” sapaku
“Halo, La ?” panggilnya
“iya, kenapa ka ?”
“gak... lo lagi dimana ?”
“nih baru juga nyampe kampus”
“oh... lo mau langsung kesini ?”
“iya nih gue bawa kuenya”
“asiik”
“eh gimana hasilnya ?”
“belom, ini lagi mantengin
computer bareng nunggu hasilnya keluar”
“udah hampir jam 12 nih”
“iya, duh gue deg-degan”
“haha tenang aja ! yakin kok gue
lo menang”
“kok lo seyakin itu sih ?”
“yah abis gambar lo keren,
ceritanya bagus lagi. Sensasinya sama kayak gue baca manga buatan jepang”
“ciee lo ngefans yah sama gue ?”
“kumat deh pedenya”
“hahaa... La ?”
“apa ?”
“gue deg-degaaan !!!”
“ih apa sih lo ? haha”
“buruan sini !”
“iya nih udah deket kok”
“mana ?”
“ini...”
“tut tut tut tuuuuttt.....”
telpon terputus, kulihat Raka berada didepan pintu menungguku.
“nih kuenya !” kataku memberikan
kotak dengan isi selusin cupcake yang ia pesan
Diraihnya kotak itu dan kemudian
dibukanya perlahan. “hmm enak nih ! ini lo yang hias semuanya ?”
“iya!”
“pantaesan gak ada gambarnya”
“ih ! Raka !”
“haha, yuk masuk !” ajaknya
mempersilahkan padaku masuk kedalam.
Ada sekitar 10 orang disini. 7
cowok dan 3 cewek termasuk aku.
“ini para mangaka kampus hijau”
kata Raka menjelaskan
“oh, banyak juga yah !” sambungku
“iya, kalau otaku sih mungkin ratusan dikampus, tapi kalau mangaka yah segini
aja. Ini juga gak semuanya jago gambar, ada yang kerjanya berdua, yang satu
nulis cerita yang satunya nge-gambar”
“kayak mashiro sama takagi di anime Bakuman yah ?”
“Lo nonton bakuman juga ?”
“gue koleksi manganya”
“wah otaku juga” ledeknya
“minna.. gue bawa kue nih ! enak loh ! Dari tokonya Kila”
“cupcake ! mau dong mau dong”
kata beberapa orang disitu yang langsung mengerumuni cupcake-ku
“enak ! kemaren lo kerja disini
Ka ?” Tanya seorang cewek berambut ikal disamping Raka. Dia cantik.
“Iya ! gue ngehias kue ulang
tahun aja sih. Kuenya enak-enak loh !”
“oh, jadi ini yang namanya Kila ?
Hai, gue Rava” ia mengulurkan tangannya
“Kila” kataku menyalami tangannya.
Dia tersenyum.
“Oh iya La, Rava ini cewek......”
sambung Raka yang kemudian dipotong oleh teriakan seseorang yang duduk didepan
kami semua dengan laptop yang dicolokkan ke LCD agar kami semua bisa melihat
pengumuman itu bersama.
“Yosh !!! udah jam 12 !”
teriaknya
“udah jam 12 ?” ulang Raka
“siap-siap yah kalian semua.....”
kata cowok itu lagi. Suasana pun seketika berubah tegang. Ia mulai mengetik
alamat sebuah situs dikeyboardnya.
“Eh ? Ka, semuanya ikut lomba ?”
bisikku ditelinga Raka
“gak sih, cuma 3 orang aja”
bisiknya gemetar
“Aduh gugup gue !” katanya lagi,
tangannya gemetaran, kakinya mengehentak-hentak tak mau diam. Lucu juga
ekspresi gugupnya.
“udah santai aja, yakin lo pasti
menang !” kataku memegang bahunya
Diraihnya tanganku lalu ia
letakkan diatas lututnya dan digengamnya erat-erat. Sekejap aku jadi ikutan
gugup karna genggaman tangannya yang erat.
Sementara dilayar masih tertulis
loading... Raka berpejam dan terus menerus memohon perlahan
“please please please... gue
mohon menang !!!” bisiknya memohon. Hmm, dia benar-benar mencintai hobby
menggambarnya...
“Selamat yah !” bisikku. Dalam
hati aku berkata “selamat karna udah jadi pemenang dihatiku”
“eh ?” ia lalu menoleh kearah
layar, belum ada apa-apa disana. Lama bukan ? yah mungkin karna sinyal wifi
kampus tidak sampai kesini.
“huh ! jangan bikin gue seneng
gitu dong La ! ngerjain gue lu !” ucapnya kesal
“yeee siapa juga yang ngerjain lo
!” balasku
“Raka ! Simon ! Dido ” teriak
cowok yang berada didepan kami, sontak Raka kembali menoleh kearah layar dan
disitulah tertera nama mereka.
“Juara 3 : “Avadakadavrah” karya SiDi (Simonardi Kusuma & Dido
Areldy)
Juara 2 : “Never !” karya – Raka Sadika
Juara 1 : “Be Mine” karya – Avril
Selamat kepada para pemenang. Semua cerita akan diterbitkan pada edisi
ke-27. Hadiah akan dikirim esok hari bersama dengan terbitan majalah ke alamat
rumah Anda. Kepada Juara 1 dan 2 harap datangi kantor kami segera untuk
menandatangani kontrak selama setahun dimajalah kami atau hubungi nomor telpon
yang kami kirim melalu email anda. Terimakasih”
“Hah ! hah ! nama gue ! Laaaaa
!!! ada nama gue ! gue menang !” teriak Raka dengan senyum paling lebar dan
paling bahagianya yang baru kali ini kulihat
“kan, gue udah bilang.....”
kataku belum sempat selesai, ia langsung memelukku
“Gue menang Laaa !” serunya lagi
“i-iyaa, selamat yah” kataku
kelewat senang karna dipeluk olehnya
“Raka !” panggil Rava
“Selamat yah jelek !!! haha lo
hebat banget ! i love you so much ! hahaha” Rakapun lalu melepas pelukanku dan
langsung memeluk Rava.
“haha thanks yah nyet ! love you
too ! hahaha” jawabnya sambil tertawa lebar.
“Raka, selamat yah !”
“Selamat sob”
“Gila sob lo keren banget !”
“Saiko”
“haha kalian juga Mon, do !”
Sementara Raka dihujani banyak
ucapan selamat dari teman-temannya, aku hanya mematung seperti orang bodoh
disini.
“eh ?” tatapku bingung. Love you
too ? apa aku tak salah dengar ? Barusan Rava bilang love you pada Raka dan
Raka membalasnya dengan Love you too ? dan lagi mereka benar-benar terlihat
mesra dalam percakapan singkat mereka tadi. jangan-jangaann, mereka.... pacaran
? Raka punya pacar ? tapi selama ini dia tidak pernah bilang kalau dia punya
pacar ! yah tapi aku juga tidak pernah Tanya sih.
Lagipula kalau tidak salah ada
yang aneh saat dia memperkenalkan Rava
tadi, dia mau bilang apa ? cewek ? Rava kan memang cewek ! itu sudah jelas,
atau mungkin maksudnya Rava itu ceweknya ? gitu ? Ahh Tuhan ! sumpah demi
apapun aku benar-benar merasa hancur ! padahal beberapa menit lalu ia memegang
erat tanganku ! padahal beberapa detik lalu ia memelukku ! padahal kami sudah
sedekat ini ! padahal.... padahal aku baru sadar kalau aku menyukainya ! Sial !
Seperti anak kecil yang meraju
karna permennya diambil, aku langsung lari keluar ruangan tanpa permisi,
meninggalkan Raka yang tengah dikerumuni teman-temannya dan pacar cantiknya.
Aku berlari kearah taman dekat parkiran, aku duduk dikursi yang sama saat aku
mengejar Raka dulu. Ah ! makin sakit rasanya !
Padahal aku ingin memberikan kue
ini padanya ! kue cupcake yang kubuat hanya untuknya, yang hanya ingin aku
berikan padanya. Sial ! saat kulihat lagi, sepertinya kue ini memang tak pantas
untuk Raka ! Agggrrr ! Bodohnya aku bisa tersakiti seperti ini ! harusnya sejak
dulu kutanya dulu apakah dia punya pacar
atau tidak ? kan tidak akan sesakit ini jika aku tau lebih awal. Bodoh
bodoh bodoh !
Sementara aku sibuk mengutuk
diriku sendiri. Dari kejauhan kudengar suara Raka memanggilku.
“La ! Kilaaa !!” teriaknya. Aku
mencoba bersembunyi dan berharap ia tak pernah menemukanku. tapi aku keburu
ketahuan bahkan sebelum sempat bersembunyi
“Kila ! lo ngapain disini ?”
tanyanya
“kok lo lari gitu aja sih ? lo
kenapa ?” aku tak menjawab
“Laa...”
“Lo sakit ?” ia memegang
keningku. Batinku berteriak “Raka plis stop ! berhenti bersikap baik sama gue
saat lo udah punya pacar ! jangan buat gue makin suka sama lo ! plis”
“gak panas kok ! Laa ?” Kukuatkan
hatiku
“gak papa kok, cuman sakit perut
!” jawabku asal
“sakit perut ?” ia tampak tak
percaya, ya jelas lah.
“haha ada-ada aja ! oh iya hadiah
gue mana ?” ia menadahkan tangannya
“hadiah ? hadiah apaan ?”
“katanya kalo gue menang lo mau
kasih gue hadiah, mana ?” pintanya lagi.
“Hadiahnya udah lo hancurin
barusan !” seruku dalam hati
“emm, kue tadi hadiahnya ! hehe”
jawabku asal lagi
“itukan pesanan gue !”
“ya, gratis berarti ! gak usah
bayar !” sambungku
“gitu ?”
“iya”
“emm, kok lo aneh gitu sih ?”
“aneh apanya ? biasa aja kok”
“yaudahlah kalo gitu gue yang
kasih hadiah sama lo, bentar” ia membongkar isi tasnya dan mengeluarkan drawing
booknya dan pensil.
Diberikannya drawing book itu
padaku.
“buka” katanya
Kubuka halaman pertama, sebuah
gambar seorang cowok berkacamata dengan rambut ikal yang lucu yang sepertinya
mirip dengannya tapi lebih ganteng. Dasar curang ! Dengan senyum simple
dibibirnya dan tulisan besar dibawahnya.
“Hi Kila !”
“kenapa ?”
“kok mandangin gambar gue
segitunya ?”
“gue ganteng yah ?”
Aku terkekeh membacanya, diikuti
tawa kecil Raka disampingku. Dasar manusia kampret ! tetep pede dimana-mana.
“Lo tau gak ?” kubaca tulisan
yang paling bawah
Kubuka halaman selanjutnya.
Disini ada gambar seorang cewek berambut lurus melewati bahu, matanya bulat,
hidungnya kecil, ia tersenyum. Ini... aku ?
“kalo senyum lo itu, manisss
banget ! kayak krim susu”
“terus kalau lo ketawa, lo itu cantik
banget kaya kue cokelat kesukaan gue”
“kalo lo cemberut, lo tuh lucu
banget, kayak karakter chibi yang bikin gue gemes setengah mati”
“suara lo itu enak banget
didengar, sangking enaknya gue pengen denger suara lo terus tiap detik ! bikin
gue ketagihan kayak cupcake cokelat buatan lo yang gue suka”
Aku membaca tiap katanya
perlahan. Tak terlewatkan sedikitpun.
Setiap katanya membuatku terbang melayang. Aku tak bisa berhenti
tersenyum melihatnya. Kubuka lagi halaman selanjutnya.
Gambar dua orang cewek dan cowok
dari samping, si cowok berlutut dengan bunga mawar ditangan kanannya.
Digambar itu, sicowok berkata :
“Pokoknya, gue suka sama lo ! semua yang ada didiri lo. Lo mau gak jadi pacar
gue ?” Sementara dialog ceweknya masih kosong.
Raka lalu memberikan pensil yang
ia pegang dan memberikannya padaku.
“nih, jawab !” katanya
Kuambil pensil itu.
“Lo nembak gue ka ?” tanyaku
girang
“gak, gue lagi marahin lo !
yaiyalah Kilaaa !” jawabnya sambil cengengesan, ia mulai tak bisa diam, ia
sedang gugup. Dia serius ?
“Lo, gak pacaran sama Rava ?” tanyaku
hati-hati
“hah ? Rava ??? Lo fikir gue
pacaran sama Rava ?”
“emm”
“dia itu sahabat gue dari kecil
tau, dia itu satu-satunya sahabat cewek gue. Dulu rumahnya sebelahan sama rumah
gue. Dia itu gila, tomboy, kayak cowok ! gak mungkin gue pacaran sama si monyet
itu !”
“tapi tadi lo love you-love
you-an sama dia”
“ya kita emang dari dulu gitu
sih. Gue manggil dia monyet tau tadi, lo gak denger ? emang ada orang pacaran
manggilnya nyet-nyetan ? hahaha ada-ada
aja !”
“lo kenapa ? cemburu yah ?”
oloknya lagi
“dih pede !”
“lah terus tadi kenapa lo lari ?”
“gu-gue sakit perut !” bantahku
malu, tapi juga senang
“ah alasan ! udah buruan dijawab
soalnya, bentar lagi dikumpulin loh !”
“Ugh ! Jadi lo beneran nembak gue
nih ?”
“iya Kilaaa...”
“kalo beneran ngomong langsung
dong, cemen ah”
“kok cemen sih ? gue kan mangaka,
jadi apa salahnya kalau gue pengen sampein perasaan gue lewat gambar ?”
“oh gitu, jadi gue boleh dong
nyampein perasaan gue lewat kue?”
“emang bisa ?”
“bisalah ! bentar yah !” kuraih
tasku dan tempat kotak kecil yang ada disana, didalamnya ada sebuah cupcake
yang ingin kuberikan padanya. Sebuah cupcake dengan tulisan “I Love you Raka”
diatasnya.
“nih !” kataku memberikan cupcake
itu padanya.
“eh ?” raka kebingungan
“ini hadiah yang gue siapin buat
lo ! ambil“
“lo, lo... tulisannya, serius nih
?” tanyanya ragu
“ya serius lah Raka ! tuh liat!”
kuberikan drawing book miliknya tadi yang sudah kutulis “IYA” sebesar mungkin
dikotak dialog gambarku.
“Kilaa.. jadi lo nerima gue ?
serius nih ? Yatttaaa !!! hahaha”
serunya sambil loncat-loncat kegirangan. Lucuuuu banget !
“terus, jawaban kue gue apa ?”
godaku
“I love you too, kila” katanya
tegas. Ia lalu mengambil cupcake itu dari tanganku
“hehe, makan dong”
“gak ah, mau gue museumkan
dirumah”
“lah ?”
“iya, ini benda bersejarah tau !
unik lagi ! liat tuh, tulisannya aja gak rapi gini” ledeknya
“lo ngeledek gue ? tau tau yang
jago banget gambar ! yaudah sini balikin kuenya!”
“eh enak aja, ini kue gue tau !
amm!!” katanya yang segera memakan cupcake itu. Ia merangkulku dan kami tertawa
seperti biasanya, hanya saja status kami sudah berbeda sekarang. Aku dan Raka
Resmi berpacaran.
Seperti dihujani seribu bintang
dilangit ! aku begitu bahagia bisa bersamanya. Bersama Raka si manusia
pajangan, bukan pajangan batu dikelas, tapi pajangan indah yang memenuhi
seluruh tempat dihatiku.
-THE END-