Dia sahabatku, sahabatku satu-satunya. Sahabatku yang
paling freak didunia. Kau tak akan mengerti apa yang ia ucapkan. Semua yang ia
katakan selalu berbanding terbalik dengan apa yang ia inginkan. Dia tidak
pemalu, tidak juga munafik, dia hanya gengsian kurasa. Entahlah, tapi begitulah
dia. Orang yang paling aku cinta.
(Aku pake gambar Oreki sama Chitanda dari Anime Hyouka. nggak nyambung sih sama cerita yang aku buat, Tapi gak apalah buat cover doang ceritanya :P)
"Dit ! mau kemana ?" tanya Arini yang
setengah berlari menghampiriku.
"bolos" jawabku enteng
"Elu tuh ya ! udah keseringan banget lo bolos pelajaran
fisika. Kalo nilai lo down gimana ?" Aku tau gadis ini akan mulai
menceramahiku, tapi aku hanya menatapnya dengan wajah tengil
"abis gue bosen ! ngitung terus. mana rumusnya
aneh-aneh gitu lagi bentuknya" alasan yang bodoh untuk orang yang bodoh
juga kataku mengomentari diri sendiri
"elaah, udah tau bego bukannya belajar malah bolos.
yaudah terserah lo deh kalo lo mau bolos, gak ngaruh ke gue juga kalo nilai lo
anjlok" Arini menatapku dengan wajah 'sok acuh tapi peduli' khas miliknya.
Gadis ini memang selalu begini. Dia tipe orang yang
gengsinya kuat banget. Kebanyakan apa yang ia ucapkan itu berarti sebaliknya. Saat
dia bilang tidak, maka berarti iya. Saat dia bilang terserah, maka berarti 'gue
nggak setuju'. Saat dia bilang pergi, maka berarti jangan pergi. Dan saat dia
berlaga 'masa bodoh' maka itu berarti dia peduli. Semuanya berkebalikan dengan
apa yang ia ucapkan. Aku sih sudah hapal sekali dengan sifatnya yang satu ini.
Kapan dia jujur dan kapan dia bohong sudah jadi keahlianku untuk meniliknya. Maka
arti dari kata-katanya barusan adalah "jangan bolos, gue nggak mau nilai
lo sampai anjlok" dan begitulah maksud Arini sebenarnya.
Arini memutar badannya lalu berjalan meninggalkanku, kulihat
punggung Arini yang perlahan menjauh dariku. 'Dasar Arini' gumamku dalam hati
saat memahami kata-kata tersiratnya itu. Aku mulai berjalan mengejar langkah
Arini, ia yang menyadari aku sedang mengikutinya dibelakang langsung menoleh.
"Apa ? katanya mau bolos ?" katanya dengan wajah
sok jutek
"nggak jadi deh" aku menjawab santai. Arini hanya
bergumam 'emm' sambil berusaha menahan senyum. Mungkin dia merasa senang karna
aku mengerti maksudnya.
Arini Cantika. Begitulah nama gadis yang selalu nempel denganku
seperti permen karet. Dia cantik, seperti namanya. Badannya cukup tinggi untuk
ukuran anak kelas 2 SMA. Matanya bulat bening dengan bola mata yang hitam pekat
seperti rambutnya yang panjang terurai. Hidungnya kecil tetapi cukup mancung,
dengan bibir merah yang tipis dan kulit putih bersihnya, ia terlihat sangat
menawan dimata para lelaki. Dia memang sudah cantik dari dulu, aku berteman
dengannya sejak kelas 5 SD. Ia pindah didekat rumahku, satu komplek sebenarnya
hanya berjarak 2 buah rumah dari rumahku. Ia jadi tetangga baru sekaligus teman
baruku disekolah. Karna dikomplek tidak ada anak yang semuran, kami sering main
berdua dan semakin akrab sampai sekarang. Aku tau baik buruknya dia, prestasi
dan aibnya, kesukaan dan kebenciannya, kekonyolan dan kebodohannya semuanya
tentang dia. begitupula sebaliknya.
Kami sudah bersahabat selama 6 tahun terakhir ini. tapi
ketika mulai masuk SMA Arini berubah menjadi lebih cantik. ia meluluhkan hati
banyak pria. Kakak kelas, anak-anak yang seangkatan, bahkan baru-baru ini
kudengar dia jadi idola para adik kelas. Sebenarnya dia orang yang gengsian, seperti
yang aku bilang tadi. Dia tidak akan pernah benar-benar menunjukkan perasaannya
yang sebenarnya kepada orang-orang. Aku sering menjadikan omongannya sebagai
teka-teki sendiri buatku. Apakah yang dikatakannya benar atau berlaku
sebaliknya. Setelah beberapa tahun, akhirnya aku bisa menguasai jurus 'menebak
maksud Arini' itu. Sikapnya yang aneh itu kadang membuatku kesal saat
kebingungan, kadang membuatku marah, tapi kadang juga aku merasa itu lucu. Ketika aku mengingat-ingat raut wajah
'khas'-nya itu ia sebenarnya begitu menggemaskan. Ya, aku suka padanya. Aku
baru menyadarinya ketika awal masuk SMA. Melihat dirinya yang setiap hari
digoda dan didekati cowok-cowok yang entah dari mana membuatku kesal setengah
mati sampai ingin menonjok muka cowok-cowok itu satupersatu. Tapi apalah dayaku
? aku sudah tertular virus Arini. Aku tak mampu mengungkapkan isi hatiku yang
sebenarnya kepada Arini. Jadilah aku seorang pecundang yang hanya bisa menyukai
sahabatnya dalam diam.
***
"Damn ! hujan lagi. gimana mau pulang nih ?" Arini
melirik jam tangannya sesekali. wajahnya tampak kesal karna hujan turun tanpa
diduga, membuat kami harus terjebak hujan disekolah.
"emang kenapa ? kok lo pengen buru-buru pulang ?"
Aku bertanya dengan tampang bodoh sok polos
"bokap sama nyokap gue hari ini pulang dari Surabaya.
Gue mau jemput mereka dibandara setengah jam lagi" Wajah Arini tampak
cemas sekarang. 3 hari yang lalu orang tua Arini pergi ke Surabaya mengunjungi
neneknya. Arini terpaksa harus tinggal karna dia tidak ingin seharipun bolos sekolah. Kalau Aku jadi Arini
pasti aku sudah merengek-rengek minta ikut supaya bebas dari rumus fisika dan
hapalan kimia selama 3 hari kedepan. Arini terlalu rajin sih, berbeda denganku
yang rajin disaat tertentu saja.
"yah mau gimana lagi, gue kan gak bawa mantel. Lagian
lu gak bilang sih. Kalo tau kan tadi pagi kita berangkat pake mobil aja"
Yah aku lebih suka mengendarai motor besar kesayanganku ini dari pada mobil.
Karna rumah kami berdekatan kami selalu berangkat sekolah bersama. Jika tidak
dengan motor kesayanganku maka kami akan berangkat dengan mobil kesayangan
Arini.
"Mana gue tau kalo hari ini bakal ujan" bener
juga sih fikirku
"yaudah deh, lu sabar aja. Lagian kalo ujan juga
pesawatnya pasti delay kan ?"
"iya kali" jawab Arini ketus. melihat wajahnya
yang semakin cemberut aku berinisiatif untuk melakukan hal gila supaya bisa
mengubah cemberut itu jadi tawa.
"mau pulang ujan-ujanan ?" ajakku dengan senyum
tengil
"ogah ah kaya anak kecil aja ujan-ujanan" seperti
biasa tolakan yang jutek
"kaya udah gede aja lu. baru 17 taun juga"
"17 taun udah gede kali"
"alah bilang aja lu takut sama ujan"
"kenapa juga mesti takut sama ujan ?"
"kalo nggak takut ikutin gue !!" aku berlari
kearah parkiran menerobos hujan. Arini berteriak dibelakangku "lo gila yah
dit ! basah tau !" Arini mengomel tapi tetap ikut berlari dibelakangku
"tapi lo ikut juga kan ?" godaku sambil memakai
helm lalu mengelurakan motor dari barisan parkiran yang rapi.
"sialan lo" Arini tersenyum disela-sela
biacaranya. Nahkan dia senyum ! ini artinya dia emang mau ujan-ujanan cuman
gengsi aja bilang iya pas gue ajak tadi.
Segera Arini naik kemotorku tepat ketika aku menghidupkan
mesinnya. Suara knalpot yang nyaring khas Ninja RR mengaum ditengah-tengah
hujan. Aku langsung tancap gas dan melesat laju menerobos hujan. Arini
melingkarkan kedua tangannya dipinggangku, ia memelukku dengan erat. Entah
takut hujan, takut jatuh, atau takut kehilanganku. Yang pasti bukan yang
terakhir. Saat kecepatan kami berkurang ia bersadar dipundakku. Meletakkan
dagunya diatas bahuku. wajahnya sangat dekat. Membuat jantungku berdetak
kencang sampai terasa ingin lepas. Aku merasa ada sesuatu yang bergejolak
dihatiku. Sesuatu itu meronta-ronta membuat sekujur tubuhku terasa geli. Ini
perasaan senang, bukan ! lebih tepatnya perasaan bahagia.
***
"huah
basaahh !" seru Arini ketika turun dari motor. Ia mengibas-ngibaskan
rambutnya lalu memeluk dirinya sendiri sambil menunggku turun dari motor.
"Gue lebih basah dari lo tau" kataku sambik mendesis kedinginan
"rasain.
Ini kan emang ide idiot lo" Arini memutar badannya membuka pintu belakang
dan masuk kedalam. Aku mengikutinya.
"Mang ucup mana Rin?" tanyaku menanyakan supir pribadi Ayahnya Arini yang akhir-akhir ini jarang kulihat.
"nggak masuk. Kan bokap gue nggak kerja. Jadi dia libur" Arini menjawab dengan suara yang terdengar gemetaran
"Bi Ani ?" aku menanyakan pembantu Arini lagi, karna kulihat rumah ini terlalu sepi seperti kuburan. Tidak ada siapapun ketika kami datang.
"nggak tau. Udah pulang kali. Diakan emang biasanya langsung pulang kalo udah bersih-bersih. Kemaren aja dia nginep disini karna disuruh Mama nemenin gue" tangan Arini tampak bergetar mengambil handuk yang terlipat rapi dimeja lalu melemparkan satu untukku.
Kami
mengeringkan badan diteras belakang rumah Arini. Hujan masih sangat lebat
diluar. Aku tidak mungkin meninggalkan Arini sendirian dirumah. Bahkan jika ia
pergi kebandara aku berencana ikut menemaninya
"Rin numpang mandi yah" Aku menyelonong masuk langsung menuju toilet. Mengganti baju basahku yang sudah benar-benar kuyup dengan baju kemeja milik Ayahnya Arini yang ia siapkan untukku.
Aku sudah berganti pakaian sekarang. Arini juga sepertinya sudah. Ia memakai baju putih lengan panjang berbahan rajut dan celana pendek. Ia duduk disofa memakan kacang didalam toples yang ia peluk sambil menonton tv.
"nggak jadi kebandara ?" tanyaku mengahampirinya
"nggak. Barusan nyokap nelpon katanya nenek tiba-tiba masuk rumah sakit. Mungkin lusa baru pulang" jawab Arini santai sambil terus mengunyah kacang. Aku tau sebenarnya ada kekesalan diwajahnya.
"jadi lo ntar malem tidur sendirian dong ?" tanyaku mengejek
"iya kali. Kan Bi Ani udah pulang" jawaban jutek
"gak telp bi Ani aja ?"
"Nanti ajalah." Ia mengabaikan saranku.
"Eh kemaren Siska minjemin gue kaset horor loh. Katanya filmnya kelewat serem. Mau nonton gak?" Arini mengobrakabrik lemari Dvdnya dan mengambil sebuah kaset dan langsung memutarnya. "boleh" sahutku agak terlambat. Meskipun aku menolak Arini pasti akan memakai alibinya untuk memaksaku ikut nonton.
"kok lo duduknya jauhan gitu sih ?" ia memasang tampak sok jutek. Maksud Arini yang sebenarnya adalah "Duduknya jangan jauh-jauh dit. Gue takut" menyadari maksud Arini yang sebenarnya aku mengejeknya.
"kenapa emangnya takut ya ?" kataku dengan wajah tengil
"Ya enggaklah. Enak aja. Ngapain juga mesti takut ? Lagian inikan cuma film" Arini menjawab dengan eksepresi sok jutek yang khas banget. Artinya "yaiyalah gue takut. Inikan film horor" hahaha dasar Arini. Aku langsung mengangkat tubuhku dan duduk tepat disamping Arini.
"iya iya gue tau" kataku sambil memasukkan tangan kedalam toples kacang yang dipeluk Arini lalu ikut mengunyah kacang bersamanya.
“tau apa ?” Tanya Arini merasa dirinya direndahkan
“ya tau kalo lo sebenarnya takut” jawabku santai
“Nggak kok !” Elak Arini malu-malu. Lucu !
“iya iyaa”
Kami nonton film itu bersama. Judulnya Shutter. Sepertinya film horror Thailand. Setauku Film horror garapan Thailand memang terkenal seram. Benar saja dugaanku. Filmnya memang seram. Sesekali Arini tersentak dan menyembunyikan wajahnya dipundakku. Ia tidak menjerit seperti cewek-cewek manja lainnya. Ia lebih memillih bungkam dan mengatasi ketakutannya sendiri. Dia cewek yang tegar dimataku, atau dia malu untuk teriak-teriak didepanku ? hahaha dasar.
Hujan tiba-tiba saja berhenti begitu film selesai. Kulirik Arini yang masih menyembunyikan wajahnya dipundakku. Tapi dia tidak bergerak. Jangan-jangan.....
“huh
dasar Arini ! rupanya gue dari tadi nonton sendrian” Ya, Arini tertidur,
dipundakku. Kurebahkan ia perlahan disofa. Matanya tertutup rapat, wajahnya
damai. Rambutnya terurai menutupi pipi kanannya. Dia jadi semakin cantik kalau
sedang tertidur pulas begini. Aku beinisiatif mengambil sellimut lalu menutupi
tubuhnya. Kulirik jam tanganku udah jam 5 rupanya. Mengingat Bi Ani tidak
dirumah. Pasti dirumah ini tidak ada makanan. Aku melesat menuju dapur.
Mengobrak-abrik kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan untuk memasak. Aku tidak terlalu
pandai memasak, tapi cukup bisa. Goreng menggoreng, tumis menumis. Aku bisa.
Dulu waktu kecil aku manja sekali dengan Ibuku. Kami sering tinggal berdua saja
dirumah. Ia sering menemaniku bermain, dan aku juga sering membantunya memasak.
Dari sanalah aku akhirnya mulai terbiasa.
Bahan-bahannya
tidak terlalu banyak. Yah sebaiknya masak nasi goreng sajalah. Aku pun mulai
membuat nasi goreng kesukaan Arini.
“Dit
?” Arini berjalan sempoyongan sambil mengucek-ngucek mata memasuki dapur
“udah
bangun tuan putri?” sahutku tanpa menoleh kearahnya. Karna tanganku sibuk
mengaduk-aduk nasi diatas wajan
“masak
apaan ?”
“nasi
goreng”
“wah.
Telor gulungnya mana ?”
“tuh
diatas piring”
“udang
sama guritanya ?”
“adaaa”
“wah
enak nih” seru Arini kegirangan. Sepertinya matanya sudah benar-benar melek
sekarang.
Kami
makan bersama dimeja makan. Arini makan dengan lahap. Ya jelaslah, ini salah
satu menu masakanku yang paling ia suka. Ia terlihat seperti anak kecil jika
sedang kegirangan begini. Mungkin karna sudah cukup lama kami tidak makan
seperti ini bersama. Piring kami bersih dan licin. Arini langsung memungutnya
lalu mencuci piring-piring kotor tersebut. Aku menunggu Arini bersih-bersih
sambil duduk diruang tv. Kufikir tidak ada salahnya menghidupkan PS. Ini sudah
seperti rumahku sendiri kan ? yah beginilah kami.
Arini
kembali dari dapur. Wajahnya memerah. Ia berjalan sempoyongan lagi kearahku.
Masih ngantukkah dia ?
“Rin ?
lo kenapa “ Tanyaku cemas. Arini tidak menjawab, ia hanya duduk disampingku
lalu menjadikan pahaku sebagai bantalnya utuk berbaring.
“Eh?
rini ?” Tanyaku kali ini karna bingung. Arini memejamkan matanya. Kali ini wajahnya
tampak cemas. Wajahnya memerah. Perlahan kurasakan semacam hawa panas disekitar
tubuhku. Arini pasti....
“demam”
kataku setelah meletakkan telapak tangan dikeningnya. Panas.
“demam
apa sih ? gak papa gue” kata Arini lemah. Ya tentu saja dia akan bohong. Dia
kan Arini.
“Aduh
gimana nih ? lo sanggup jalan gak ?” tanyaku mulai panik
“apa
sih, gue nggak papa. Cuma pusing aja dikit” ia bergumam tak jelas
“yaudah
gue gendong” Aku langsung mengangkatnya menuju kamar. Aduh mana kamar Arini
diatas lagi. Tapi takapalah. Aku cukup kuat kok untuk menggendong Arini.
Kuletakkan ia perlahan diatas tempat tidurnya lalu kuselimuti ia dengan selimut
tebal. Matanya masih terkatup, wajahnya cemas, tubuhnya gemetaran. Aduh Arini
sakit. Pasti gara-gara ujan-ujanan tadi.
“Gue
ambilin obat sama kompres dulu yah” Kataku langsung turun kebawah mencari
baskom kecil dan kain untuk kompres, lalu bergegas mencari kotak obat dan air
minum untuk. Dapat.
“Nih
rin, lu minum obatnya dulu” kusodorkan sebutir obat dan segelas air putih untuk
Arini. Ia beranjak duduk dan meminum obatnya. Tangannya benar-benar gemetaran
saat memegang gelas.
“sekarang
lo tiduran. Gue kompresin biar demamnya turun” Arini hanya menggaguk lemah
sekarang. Ia kembali berbaring dengan bantuan tanganku. Kukompres keningnya
seperti yang biasa ibuku lakukan jika aku demam. Wajah Arini masih memerah
karna badannya panas. Bodohnya aku mengajaknya hujan-hujanan tadi, sekarang aku
menyesal telah melakukannya.
“maaf”
kataku pelan ketika tanganku memegang kain kompres dikening Arini. Tanpaku duga
Arini memegang tanganku lalu mengangkatnya dan mengegengam tanganku dengan
kedua tangannya.
“Gue
nggak papa kok dit” Ia membuka matanya dan menatapku hangat, meskipun tangannya
benar-benar terasa dingin seperti es. Kata-katanya begitu lembut walaupun aku
tau itu bohong.
“Tapi
Rin, gara-gara gue ngajakin ujan-ujanan tadi lo jadi sakit” kali ini
kata-kataku benar-benar penuh nada penyesalan
“gue
nggak papa Radit ! gue Cuma kedinginan gara-gara kelamaan kena aer tadi”
kata-kata Arini mulai terdengar tegas walaupun masih dengan nada yang rendah
“Tapi
Rin, salah gue juga biarin lo......” aku ingin mengatakan bahwa membiarkannya
mencuci piring tadi adalah kesalahanku juga, tapi ia sudah duluan memotong
omonganku
“udahlah,
mending lo hangatain tangan gue nih. Dingin banget soalnya” Ia tersenyum
diakhir kalimatnya. Arini selalu bisa mengendalikan percakapan seperti ini,
selain pandai berakting dan berbohong ria, ia juga ahli mengalihkan pembicaraan
seperti ini. Lagipula yang ia katakan memang ada benarnya. Kata maaf tidak akan
membuatnya sembuh kan ? Aku mengangguk mengiayakan kata-kata Arini lalu
mengangkat tanganku yang satunya dan menggenggam kedua tangannya yang sedingin
es itu.
“udah
lo tidur gih, gue jagain” Kataku lembut
“lo
nggak pulang ? kalo lo mau pulang gue nggak papa kok” dia masih saja tidak mau
jujur, padahal keadaannya sedang buruk begini. Dasar tukang gengsian. Mana
mungkin aku akan meninggalkannya sendirian dirumah sebesar ini. Lagipula tidak
cocok sekali ia berkata seperti itu sementara ia masih menggenggam tanganku. Ia
kan butuh kehangatan. Eh maksudnya butuhku.
“gak.
Gue jagain lo sampe pagi. Udah tidur aja. Ntar lo tambah sakit mikirinnya”
Arini hanya tersenyum lalu ia menutup matanya. Beberapa menit berlalu
sepertinya ia sudah tertidur. Aku segera menelpon ibuku menjelaskan padanya
bahwa aku harus menginap dirumah Arini malam ini. Awalnya ia memarahiku dan
menyuruhku membawa Arini kerumah saja. Tapi kubilang Arini sudah tidur dan aku
tidak akan tega membangunkannya. Akhirnya dengan sangat terpaksa ibuku
mengizinkan Aku menjaga Arini malam ini. Lagi pula mana mungkin aku melakukan
hal-hal aneh pada Arini. Saat dia sehat saja aku tidak punya sedikitpun niat
macam-macam dengannya apalagi saat dia sakit. Aku hanya ingin menjaganya.
Menjaganya agar selalu bisa berada didekatku.
***
“Dit, udah pagi ! Lu
gak mau sekolah apa ? Dit !!” kudengar samar-samar suara Arini didekat
telingaku. Kupaksakan mengangkat kelopakmataku yang luar biasa berat karna
terjaga semalaman.
“Rin” gumamku begitu
melihat Arini sudah berdiri disampingku
“Dit ! buruan bangun
ntar telat nih !!” Dia mulai menggoyang-goyangkan tubuhku
“Lo kok pake seragam
sih ?” tanyaku begitu mataku sudah terbuka sepenuhnya.
“kok pake seragam ?
ya mau sekolah lah bego !” Dia menjitakku.
“Lo udah sembuh ?”
tanyaku langsung berdiri dan memegang keningnya, panasnya sudah turun, tapi aku
masih merasa khawatir padanya.
“udah dong, kan gue
kuat. Udah buruan sana pulang. Kalo nggak gue tinggal loh !” Ia menarikku
berdiri dan mendorongku keluar dari kamarnya.
“iya iyaa, gue
pulang, jahat banget sih usir-usir” gerutuku sambil berjalan keluar rumah.
Kulirik Bi Ani yang sedang sibuk menyiapkan makanan dimeja makan.
“Pagi bi” sapaku
“Eh, Den Radit. Kok
ada disini ? nginep ya ?” tanyanya kaget
“iya bi. Semalem
Arini demam, jadinya saya deh yang jagain” kataku sambil mencuri sepotong roti
dari meja makan
“Non Arini demam ?”
tanyanya lagi kali ini ekspresinya lebih kaget
“Udah ! buruan sana
! kalo dalam 5 menit lo belum siap juga, gue berangkat duluan” ancam Arini
sambil menendangku keluar dari rumahnya. Kejam. Inikah yang kudapat dari
begadang semalaman menjaganya ? hiks
Set set set set set.
Selesai. Aku sudah tampan dan wangi sekarang. Aku langsung bergegas keluar
rumah karna aku tau Arini pasti menungguku, walaupun sudah lewat 5 menit, dia
pasti menungguku, aku tau soalnya tadi dia bilang dia akan meninggalkanku.
Kebalikan, ingat ?
“Lama !!” katanya
jutek saat aku menjemputnya.
“hehe, gak bakal
telat kok. Tenang aja” jawabku santai dan langsung tancap gas kesekolah.
“Pagi Arini, cantik
banget hari ini” sapa cowok-cowok jelek
yang terpesona begitu Arini lewat didepan mereka. Membuat tanganku gatal ingin
menonjok mereka satupersatu
“Pagi” jawab Arini
santai dan itu langsung membuat mereka semua kegirangan. Menjijikkan
“kenapa lo ?” Tanya
Arini yang ternyata melihatku memasang tampang jijik
“enggak” jawabku
cepat
Pelajaran biologi berlangsung
cukup lama, mungkin hanya aku yang merasa seperti itu karna pelajaran ini
sangat membosankan bagiku. Kuperhatikan Arini yang duduk diseberang bangkuku,
Fokus sekali dia. Tapi dia terlihat cantik juga jika sedang fokus begini.
“Arini cantik ya ?”
Bisik Yogi, teman sebangkuku.
“hm ?” sahutku
langsung mengalihkan pandanganku padanya
“Eh, lo sama Arini
udah lama kan temenan ?” tanyanya tiba-tiba sok dekat
“terus ?” jawabku
jutek
“Arini udah punya
pacar belom ?” tuhkan. Nih anak sok akrab cuma buat deketin Arini doang.
“menurut lo ?”
jawabku acuh tak acuh
“Gue serius dit”
“Lo kan cowo, ya lo
tanya sendiri lah”
“Pelit banget sih lo”
Elah nih orang baru kenal berapa bulan
aja udah ngelunjak, minta ditabok juga.
“Bodo” jawabku
jutek. Yang diiringi gumaman-gumaman tak jelas dari mulutnya.
***
“Rin, Mau kekantin ?
bareng gue yuk” Ajak Dika tepat setelah bel istirahat
“Eh, tapi gue sama
Siska, sama Radit juga” jawab Arini yang membuatku bangga. Rasain lo Dik !
“Yaudah, kalo gitu
kita sama-sama aja, yuk” Njir, nih orang maunya apa sih ? Cari perhatian banget
“boleh deh, yuk”
sambung Arini sambil memberiku isyarat untuk ikut. Huh menyebalkan
Akhirnya kami makan
berempat bersama dikantin. Dika benar-benar sok asik. Dia selalu berusaha
mencuri perhatian Arini, gak heran kalau bocah ini digelar Playboy sama
anak-anak. Dari mukanya aja udah keliatan kalo dia playboy. Gak bisa nih,
pokoknya Arini gak bisa dibiarin sama nih anak.
“Oh ya Rin, hari ini
ada acara gak ?” Tanya Dika
“Em, hari ini gue
jemput bokap sama nyokap gue dibandara” jawab Arini. Mampus lo boy !
“kalo besok ?” elah,
udah ditolak juga masih ngotot
“Em, besok. Gimana
yah. Kayaknya gak ada deh” Ariniiiiii !!! jangan jawab gak ada dong !
“kalo gitu keluar
bareng gue mau gak ?” gak bisa dibiarin nih, harus lakuin sesuatu, harus,
harus.
“Rin, lu kan janji
mau ngajarin gue fisika besok” Duh kampret, terpaksa banget pake alasan
belajar, padahalkan aku musuh bebuyutan fisika. Sial banget alasannya
“eh ? lo mau gue
ajarin fisika ? benaran dit ?” Tanya Arini kegirangan
“iya, kan bentar
lagi ulangan, kaya lo bilang, kalo nilai gue anjlok gimana ?” jawabku gugup
“bener yah. Awas lo
kalo bohong” ancam Arini
“iya iya, bawel lu”
jawabku kesal
“Jadi Rin ?” Tanya
Dika yang kayaknya mulai kesal denganku
“Jadi, ya gak bisa
Dik, soalnya jarang-jarang banget Radit mau belajar. Sorry yah” Nah gitu dong
Rin, jawabnya gitu dong. Dari tadi kek
“oh gitu, oke deh.
Gak papa kok” Hahaha wajah apaan tuh ? wajah pecundang. Kasian Dika.
***
Bel pulang sudah
berbunyi. Aku segera mengemasih barang-barangku kedalam tas dan bergegas keluar
dari kelas terkutuk ini. Huahh. Bahagianya berada diluar kelas.
“Dit, gue ada rapat
OSIS, katanya sih sebentar, tapi kalo lo gak mau nungguin gue, pulang duluan
aja, Gakpapa kok” Kata Arini yang jelas-jelas artinya dia memintaku untuk
menunggunya.
“iya, gue tungguin
kok” jawabku diiringi senyum padanya
“benaran ?” tuhkan
dia senang
“iya”
“yaudah kalo gitu
gue keruang rapat dulu yah. Yuk Sis” katanya sambil menarik tangan Siska dan
berlalu dari hadapanku.
Aku pergi kekantin
membeli air minum, lalu berjalan dikoridor melihat anak-anak sedang bermain
basket dilapangan. Bosan juga rasanya, mending ikut main ah, fikirku. Cukup
lama aku bermain hingga terasa lelah. Aku duduk ditepi lapangan, mencoba
menstabilkan nafasku yang ngos-ngosan. Kuteguk sebotol air yang kubeli tadi.
Sudah 1 jam. Arini lama sekali. Aku memungut tasku lalu berjalan menuju ruang
OSIS.
“Do, Rapatnya udah
selesai ?” tanyaku pada Edo, teman sekelasku yang juga anggota OSIS. Aku
berpapasan dengannya dan beberapa orang pengurus OSIS.
“Udah, Arini masih
diruang OSIS sama siska, samperin aja” jawabnya sebelum kutanyai dimana Arini.
“oh, thanks ya”
“Yo’i”
Aku meneruskan
langkahku menuju ruang OSIS, kulirik Arini dari jendela ruangan yang sedang
kulewati. Hanya ada dia dan Siska didalam sana. Tampaknya mereka sedang asik
membicrakan sesuatu.
“Terus, kalo Dika
nembak lu gimana ?” Terdengar suara Siska yang spontan menghentikan langkahku.
“emm, gue tolak kali
yah” jawab Arini yang membuatku langsung tersenyum licik
“langsung tolak gitu
? gak mikir-mikir dulu ? dia ganteng loh, popular lagi” goda Siska
“yah abis gue gak
suka sama dia” jawab Arini ketus. Hahaha mampus lo boy ! loh kok aku jadi nguping pembicaraan mereka
gini sih ?
“kalo sama Radit ?”
Tanya siska lagi-lagi menghentikan langkahku yang sudah berniat untuk masuk dan
bergabung dengan mereka. Sial kenapa aku jadi deg-degan gini sih. Duh gawat,
gawat ! jantungku rasanya mau copot. Oke tenang, fokus. Pasang telinga
baik-baik dan dengarkan jawaban Arini.
“Rin ?” Suara siska
terdengar lagi setelah sesaat Arini tidak menjawab. Aku penasaran lalu aku
menggeser tubuhku sedikit agar bisa melihatnya dari jendela. Dia menunduk.
Arini....
“Ya enggaklah !
ngomong apa sih ? mana mungkin gue suka sama Radit, dia itukan temen gue dari
kecil. Gak mungkin kan kalo gue sama dia pacaran. Lo tau kan gue sama dia itu
udah temenan selama 6 tahun. Lagian dia itu anaknya suka seenaknya sendiri,
makanya gue selalu ada buat ngingetin dia. Pokonya nggak mungkin kalo gue sama
dia jadian. Dia juga gak mungkin suka sama gue” jawab Arini panjang lebar. Aku
tau maksud dari setiap kata itu. Intinya dia tidak menyukaiku.
Aku hanya bisa
terdiam untuk beberapa saat. Dadaku sakit. Aku begitu terkejut dengan
pernyataan Arini, sampai-sampai aku lupa caranya bernafas. Sakit ! Dadaku
sesak, Hatiku hancur, jantungku rasanya sedang diremas kuat oleh sesuatu,
tanganku gemetaran, wajahku terasa panas. Aku marah, aku sedih, aku kecewa, aku
kesal. Sesaat terlintas perasaan benci, aku benci pada Arini, teganya ia
mengatakan hal seperti itu. Padahal selama ini aku selalu bersamanya, aku
selalu menjaganya, aku selalu melindunginya, aku selalu... selalu mencintainya.
Tapi apa yang ia lakukan padaku ? dia menghancurkanku !
“hahaha, santai aja
kali Rin” kudengar suara samar-samar Siska sedang tertawa. Ah kepalaku mulai
terasa pusing, aku ingin pulang segera. Tapi aku masih memikirkan Arini, aku
harus mengantarnya pulang, aku tak bisa meninggalkannya sendirian. Pada
akhirnya aku memang tak bisa benar-benar membencinya.
“Radit !” ucapnya
kaget begitu melihatku berdiri tepat didepan pintu. Aku hanya menatapnya tanpa
berkata apapun.
“udah lama disini ?”
Tanyanya gugup. Aku tidak menjawab, ku balikkan badanku dan berjalan menuju
parkiran. Dia mengikutiku dibelakang.
“Dit, lo sakit ?”
tanyanya ketika kami sudah sampai diparkiran
“gak” jawabku jutek
“kok lo diem ?”
tanyanya lagi, aku tidak menjawab.
“tuhkan ! lo
ngacangin gue yah ?”
“naik” kataku
menyuruhnya naik keatas motor. Ia hanya menuruti kata-kataku
Sepanjang jalan kami
tidak berbicara apapun. Aku mengantarnya sampai didepan rumahnya, begitu ia
turun aku langung pulang sebelum ia sempat bicara apapun.
Kurebahkan tubuhku
dikasur, rasanya aku ingin menghancurkan kamarku beserta isi-isinya. Aku
benar-benar kesal saat mengingat kata-kata Arini tadi. Hal itu benar-benar tak
disangka-sangka, padahal selama ini kami sangat dekat, kufikir hubungan kami
bisa lebih jauh lagi dari sekedar sahabat, tapi ia hanya menganggapku teman
kecilnya ? Agggrrrrrr !!!
“Dit” kudengar suara
Arini mengetok pintu kamarku. Ngapain dia kesini ?
“gue masuk ya”
katanya sambil membuka pintu kamarku yang harusnya aku kunci tadi. Huh
“Lo nggak papa ?”
tanyanya khawatir. Kututup wajahku dengan bantal, aku tak mau mellihatnya untuk
saat ini, melihatnya membuat hatiku makin sakit
“Dit” panggilnya
“Dit, lo kenapa sih
?” tanyanya mulai kesal, ia menarik bantal yang kugunakan untuk menutup wajahku
“Apasih ! Ah..”
jawabku kesal juga
“Lo kenapa sih ?
sakit ?” dia memegang keningku yang langusung ketepis
“Apa sih lo ? nggak
usah sok perhatian deh” jawabku ketus
“hah ! Lo marah sama
gue ?”
“Nggak ! udah ah gue
mau tidur”
“Dit !!!”
“Apa sih ? berisik
tau nggak !”
“Lo marah kan sama
gue ?”
“Nggak ! udah
dibilang juga !”
“Beneran nggak marah
?” tanyanya kali ini dengan nada yang sedikit riang
“Iya” jawabku malas
“Oke, kalo gitu
temenin gue ketoko buku, yok !” Ia lalu menarik-narik tanganku.
“Hah ? nggak ah gue
mau tidur” tolak ku langsung, enak saja dia mengajakku pergi bersamanya setelah
ia bilang tidak menyukaiku ? memangnya hatiku apaan coba ?
“ayolah dit, katanya
lo nggak marah sama gue”
“nggak ah. Lo ajak
Dika aja sana”
“Kok Dika sih ?”
“ya... kan dia suka
sama elo”
“Lo kenapa sih ?
padahal tadi kayaknya lo nggak senang banget pas Dika ngajakin gue jalan,
sekarang lo nyuruh gue jalan sama dia ?” bentak Arini
“Mau lo apa sih ?”
tanyanya lagi
“Lo nggak mau jalan
sama Dika ?” tanyaku serius
“ya nggaklah,
ngapain juga jalan sama dia” jawabnya ketus
“terus ngapain juga
lo mau jalan sama gue ?”
“eh ? maksud lo ?”
“karna gue sahabat
lo ?”
“ya-yaiyalah, lo kan
emang sahabat gue”
“terus kenapa nggak
ajak Siska aja ? diakan juga sahabat lo”
“y-ya sih” Ternyata
benar, dia memang hanya ingin mengajakku. Apasih maksudnya ? dia hanya
membuatku bingung. Apa aku special ? tapi dia bilang dia tidak menyukaiku.
Aggrr bodo ah !
“yaudah sama Siska
aja” jawabku mengelak
“Lo kenapa sih dit ?
kalo nggak mau langsung bilang aja kali” ia mulai kesal lagi
“gue udah bilang
kali. Gue kan nggak kayak lo !” jawabku terpancing emosi
“nggak kayak gue ?”
“Iya, lo tuh nggak
pernah jelas. Semua yang lo ucapin sama yang ada dihati lo tuh beda. Lo tuh
aneh ! gue heran kenapa ada orang seaneh lo ! mulut lo bilang nggak tapi hati
lo bilang iya. Apa sih susahnya tinggal ngomong ? sikap lo itu cuma bisa bikin
orang sakit kepala tau gak ? mikirin omongan loooo terus tiap ari. Apa sih
bagusnya sikap lo itu ? lo tu munafik
tau gak ! gak bisa jujur sama diri sendiri. Lo tuh FREAK !” Aku membentaknya.
Apa yang kulakukan ? Aku mengucapkan semua yang ada dikepalaku. Bodoh bodoh
bodoh !
“Iya, emang gue
Freak ! gue fikir cuman lo satu-satunya orang yang bisa ngerti sikap aneh gue. Gue
benci lo Radit ! Gue benci ! benci benci benci benci benci benciiiiiiiiii
banget !!!” Kulihat mata Arini mulai berkaca-kaca, sesaat sebelum dia
meneriakiku dengan kata-kata benci, air matanya jatuh. Aku membuatnya menangis.
Ia lalu berlari meninggalkanku. Aku berusaha mengerjarnya tapi aku berhenti
saat didepan tangga. Aku sadar apa yang aku lakukan adalah salah. Seharusnya
aku tidak membentaknya seperti itu, seharusnya aku tidak menyakitinya. Ia
membenciku sekarang. Apa yang kulakukan ? aku telah membuatnya pergi.
***
Pagi ini aku pergi
kesekolah sendiri, aku menjemput Arini tapi Bi Ani bilang ia sudah berangkat
sendiri. Dia benar-benar marah padaku. Aku memasuki kelas, kulirik dia, matanya
agak sembab, ia pasti menangis semalam gara-gara aku. Aku benar-benar merasa
bersalah.
“Rin, kekantin yuk”
Ajak Dika seperti biasa, tepat saat bel istirahat.
“yuk” jawab Arini
cepat. Ia kekantin dengan Dika ? hah ?
“kenapa dit ?
berantem ya sama Arini ?” Yogi menyikutku
“berisik lo” jawabku
ketus
“elaahh, gitu aja
marah. Sensi banget lo. Lagi dateng bulan ?” oloknya kesal
“Diem !” bentakku
kesal lalu meninggalkannya.
Aku pergi kekantin
sendiri, duduk dikursi pojok yang agak jauh dari Arini, kulihat Ia benar-benar
sedang menikmati makan bersama Dika, lihat saja dia, dari tadi tertawa terus.
Pasti karna lelucon-lelucon aneh Dika yang padahal sama sekali tak lucu bagiku.
Aku beranjak dari
kursiku dan meninggalkan kantin, lama-lama melihat mereka dadaku bisa sesak
nanti. Aku kekelas dan mengambil tasku, pelajaran selanjutnya aku bolos. Aku
singgah ketaman didekat komplek dan tidur diatas rumput-rumput ditepi danau.
Biasanya aku kesani bersama Arini, tapi karna dia sedang marah padaku, yah apa
boleh buat. Aku pulang kerumah saat jam sekolah berakhir agar ibuku tidak
curiga jika aku bolos. Aku langsung masuk kamar dan menghempaskan tubuhku
diatas kasur. Huh aku merasa sangat lelah padahal tidak melakukan apa-apa.
Fikiranku kosong, aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Jujur saja ini adalah
pertama kalinya aku bertengkar hebat dengan Arini, biasanya kami hanya
bertengkar karna makanan atau mainan dan hal-hal sepele lainnya, dia benar-benar
marah kali ini. Aku harus bagaimana ? Rasanya aku tak bisa melakukan apapun
tanpa Arini. Bodohnya aku !!
Tanpaku sadari
matahari sudah semakin rendah, cahaya jingganya mulai Nampak dilangit. Aku
hanya mengurung diriku dikamar seharian ini. Apakah hidupku begitu tidak
berguna tanpa Arini ? Mungkin aku sudah benar-benar keterlaluan padanya, bahkan
dia tidak datang untuk mengajariku hari ini. Mungkinkan dia pergi dengan Dika ?
Hah ! Kuambil handphone-ku dan membuka akun path milikku, Arini selalu update status
di Path, apapun yang ia lakukan, kapanpun dan dimanapun dia. Media social yang
satu ini benar-benar sudah menjadi satu jiwa dengannya.
“You know me more than myself” 3 menit yang
lalu. Begitulah isi status terakhir Arini. Siapa ? aku ? yang dia maksud
akukan ? Aku tau dia lebih dari siapapun. Iya kan ? siapa lagi selain aku yang
bisa mengerti dirinya yang aneh itu ?
“Iya, emang gue
Freak ! gue fikir cuman lo satu-satunya orang yang bisa ngerti sikap aneh gue.
Gue benci lo Radit ! Gue benci ! benci benci benci benci benci benci benci
benciiiiiiiiii banget !!!” Tiba-tiba saja aku mengingat kata-katanya kemarin.
Njir, rasanya sesak banget kalau ingat kata-katanya itu. Apalagi dia bilang
‘benci’ sampai 10 kali gitu. Aggggrrrrrr !!! Aku mengacak-acak rambutku sendiri
sangking setresnya. Dia benar-benar membuatku gila. Kuingat lagi kata-katanya
saat diruang OSIS.
“Ya enggaklah !
ngomong apaan sih ? mana mungkin gue suka sama Radit, dia itukan temen gue dari
kecil” Aduh sakit banget sih, jadi statusku hanya teman masa kecil dan tidak
akan pernah naik pangkat ya ?
“Gak mungkin kan
kalo gue sama dia pacaran. Lo tau kan gue sama dia itu udah temenan selama 6
tahun. Lagian dia itu anaknya suka seenaknya sendiri, makanya gue selalu ada
buat ngingetin dia” Jadi menurutnya aku hanya sesuatu yang harus ia jaga ?
begitukah ? bukankah selama ini aku yang selalu berusaha menjaganya ? Omongan
Arini emang tak sesuai dengan yang sebenarnya. hemmm
“Pokonya nggak
mungkin kalo gue sama dia jadian. Dia juga gak mungkin suka sama gue” Njir
kata-kata yang terakhir nyakitin banget !!! hatiku hancur berkeping-keping.
“Tunggu dulu,
kayaknya kebanyakan nggak mungkinnya deh, lagian alasannya berbelit-belit
banget, kenapa dia nggak bilang ‘gue cuma anggap Radit temen masa kecil gue
doang’ bukannya jawaban kaya gitu lebih enak diucapin yah ? Oh iya, dia kan
Arini, omongannya selalu berkebalikan sama isi hatinya yang sebenarnya. Hahaha,
masa kebiasaan Arini aja bisa lupa” Aku bergumam pada diriku sendiri lalu
tertawa-tawa atas kebodohanku. Mungkin aku sudah benar-benar gila dibuatnya.
Fikiranku terus menjelajah mengingat-ingat setiap kata-kata Arini. Tiba-tiba
saja aku menyadari sesuatu.
“KATA-KATA ARINI
TIDAK PERNAH SESUAI DENGAN ISI HATINYA, MEREKA PASTI BERLAWANAN” Kataku dengan
suara lantang dan langsung berdiri sambil tertawa nyaring sekali seperti
penjahat difilm-film kartun. Rasanya aku mengeluarkan semuanya sampai-sampai Ibuku
masuk kekamar karna terganggu.
“Radit ?” katanya
begitu pintu kamarku terbuka dan hanya wajahnya yang muncul dari balik pintu.
“Ups, sorry Ma”
kataku sambil tersipu malu. Aku merasa benar-benar bersemangat sekarang. Aku
harus menemui Arini sekarang juga ! Aku segera meraih ponselku dan berlari
keluar kamar melewati Ibuku yang sedang kebingungan karna ulahku.
“Radit kerumah Arini
dulu ya Ma” kataku menyelonong keluar
Aku berlari ketaman,
dari status yang kulihat 3 menit lalu ia berada disana. Aku berlari sekuat
tenaga mengejarnya, mengejar Arini. Wajahku tak bisa behenti tersenyum, aku
benar-benar bodoh tidak segera menyadarinya. Padahal Aku yang paling mengeti
dia. Dia pasti sedih karnaku. Aku harus segera minta maaf dan menjelaskan
semuanya.
Seperti dugaanku dia
tengah duduk sendiri ditepi danau. Huh rasanya lelah sekali, padahal biasanya
aku kesini naik motor, yaampun aku benar-benar bodoh sampai melupakan motorku
dan malah berlari-lari begini. Padahalkan lebih cepat kalo naik motor.
“Arini.....”
teriakku dengan nafas terengah-engah.
“Radit ?” ucapnya
terkejut saat menoleh. Tanpa fikir panjang lagi aku langsung memeluknya. Ia tak
marah atau memberontak. Aku mengatur nafasku lalu kuucapkan kata itu.
“Maaf” kataku pelan
“hah ?”
“Gue sadar kalo gue salah, kata-kata gue
udah kelewatan banget, gue minta maaf” Kulepaskan perlahan pelukanku padanya
lalu kutatap wajahnya.
“Sebenernya, waktu itu gue denger
pembicaraan lo sama Rika di ruang OSIS”
“Hah ? lo denger ? semuanya ?”
“iya, jujur aja waktu itu gue hancur
banget denger lo ngomong kaya gitu....” kataku diiringi senyum malu-malu
“Tapi dit,..” sanggah Arini
“Iya gue tau kok. Waktu itu gue
bener-bener kacau, gue langsung hancur begitu denger kata-kata lo. Harusnya gue
sadar kalo maksud lo nggak kaya gitu. Harusnya gue selalu jadi gue yang ngerti
tiap kata-kata lo. Waktu itu gue ngerasa kalo gue bukan siapa-siapa dimata lo.
Gue jadi buta. Sampai-sampai gue lupa sama kebiasaan lo yang aneh itu. Hehe” jelasku
“Mmm. Sorry” kata Arini sambil menunduk
merasa bersalah.
“Gue juga minta maaf udah bentak-bentak
lo waktu itu”
“Lo gak salah kok, sikap gue emang aneh.
Harusnya gue nggak kayak gitu”
“Iya sikap lo emang aneh, tapi gue suka
kok. Waktu itu gue ngomong kaya gitu karna gue
nggak ngerti apa maksud lo yang sebenarnya, padahal harusnya gue jadi
orang yang paling ngertiin lo, iyakan ?”
“Radit ! makasih yaa. Gue sayang banget
sama Looo !! Eh nggak maskudnya benci !! Hehe” Ia langsung memelukku, aku
benar-benar terkejut dibuatnya. Dia bilang dia menyayangiku dan dia langsung
memelukku. Tuhan bukankah adegan seperti hanya ada dalam mimpiku selama ini ?
Kufikir ia tidak akan pernah bilang sayang padaku. Kata sayang dalam kamus
Arini pasti ia ganti jadi Benci. Jadi aku langsung sadar saat dia meneriakiku
waktu itu, sebenarnya bukan benci yang ia maksud, tapi sayang. Dan saat diruang
OSIS dia bilang ‘gak mungkin- gak mungkin’ terus. Itu artinya dia ingin. Bukan
gak mungkin pacaran dengankku, tapi dia ingin berpacaran denganku. Hahaha,
bodoh sekali aku bisa lupa dengan sifat anehnya dan lupa mengartikan tiap
kata-katanya waktu itu. Padahal dilihat darimanapun udah jelas kalau dia
menyukaiku. Aku benar-benar bodoh. Hahaha rasanya ingin tertawa terus kalau
ingat kebodohanku sendiri.
Kutatap lagi kedua bola matanya yang
sudah mulai berkaca-kaca.
“Jadi lo beneran benci kan sama gue ?”
tanyaku dengan wajah serius.
“Iya ! gue benciiiii banget sama lo !”
jawabnya dengan nada riang yang sangat kurindukan.
“Haha, kalo lo benci sama gue, berarti
lo mau kan pacaran sama gue ?” tanyaku lagi
“udah jelas kan ? gue gak bakal mau
pacaran sama lo” sudah kuduga ia kan menjawab seperti itu
“Maksud lo nggak bakal nolak ? jawab
yang bener dong, serius nih” kutarik-tarik kedua pipinya
“Ladit shakit !” teriaknya gak jelas
“Iya iya gue mau kok jadi pacar lo”
katanya sambil mengelus-elus pipinya yang mulai memerah
“Haaaaaaa Yes !!! Yes !!! Yesss !!!
Huuuuu !!” Sorakku kegirangan sendiri mendengar kata-kata Arini, itu kata-kata
yang selalu kuimpikan diucapkan oleh mulut Arini. Aku benar-benar tak percaya
akhirnya bisa mendengar kata-kata itu. Aku terlalu bahagia sekarang.
“Apa-an sih lo ? aneh banget ?” kata
Arini sambil tertawa geli melihatku melompat-lompat tak jelas.
“bodo amat. Eh liat, keren yah” kataku
sambil membalikkan badanku menatap langit, entah mengapa langit sore hari ini
benar-benar tampak indah, warna jingganya tampak lebih terang dari biasanya.
Matahari perlahan turun dan digantikan oleh bulan.
“Keren” ucap wajah polos Arini yang penuh
kekaguman. Perlahat tangannya menyentuh tanganku lalu kami pun bergandengan tangan.
Kualihkan pandanganku kearahnya, sepertinya ia menyadarinya dan balik
memandangku. Kami berpandangan cukup lama, perlahan tapi pasti wajahku dan
wajahnya menjadi dekat dan sangat dekat. Pada akhirnya ciuman pertama kami pun
terjadi saat matahari tenggelam dan bulan mulai bersinar.
Persahabatan kami yang berharga kini
sudah berganti status, kami tak berfikir persahabatan kami hilang atau hancur.
Kami tetap melakukan semuanya seperti biasa, walaupun terasa agak canggung
diawal. Tapi akhirnya kami mulai terbiasa, hubungan kami jadi semakin erat
karna kami memang sudah mengenal satu sama lain sejak dulu. Orangtua kami
sangat senang dengan hubungan baru kami. Mereka mendukungnya, bahkan Ayah
bilang akan mempersiapkan acara pertunangan untuk kami. Tapiku tolak, bagiku
terlalu cepat untuk itu. Aku masih ingin menikmati masa SMA-ku yang indah
sebagai pacar Arini, walaupun kelak aku juga ingin jadi tunangannya. Sekarang
aku juga bisa memarahi Dika dan cowok-cowok lain yang suka menggoda Arini
dengan alasan bahwa aku pacarnya. Hahaha Aku benar-benar bahagia dengan status
baru kami. Lebih tepatnya Aku bahagia bisa mencintai dan dicintai oleh Arini.
- THE END -


10 komentar:
Makasih kk komennya :)
Sukaaaa~
Makasih kak Rose :) sorry "Cerpen"-nya kepanjangan. wkwkwk
Males komen panjang lebar
Lanjutin de
ih ibnuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
aaa bagusss >.< gregetan baca ceritanya~ post cerita yang lain jg yaa, tambahin bumbu romance nya lebih banyak >,<
Aaaaa dista makasiiih !!! sip gampanglah kalo tugas nda numpuk tuh :P
Bisa gambarin izumi shinichi ga?
Bisa gambarin izumi shinichi ga?
Posting Komentar